809.200 Liter Air Disalurkan, Kekeringan di Bali Meluas Sampai ke 15 Desa
LambeTurahBali - Musim kemarau tahun ini benar-benar menguji ketahanan warga Bali. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali mencatat dampak kekeringan ekstrem sudah meluas, menyentuh 529 keluarga yang tersebar di 15 desa dan kelurahan di empat kabupaten sekaligus.
Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah pada BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan, memaparkan wilayah yang terdampak meliputi Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Klungkung. Data ini dihimpun sejak 11 April hingga 2 September 2026.
Di Buleleng, kekeringan melanda Desa Sinabun, Madenan, dan Menyali. Sementara di Jembrana, dampaknya jauh lebih meluas, mencakup Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, Pergung, Kelurahan Bale Agung, Desa Berangbang, Yeh Embang Kauh, Tukadaya, hingga Manistutu.
Karangasem sendiri mencatat dampak di Desa Baturinggit, Tianyar Timur, dan Tianyar. Sementara Klungkung, meski hanya satu titik, tetap merasakan dampak serius di Desa Pejukutan.
Untuk mengatasi kesulitan akses air bersih ini, BPBD bersama pemerintah daerah bergerak cepat mendistribusikan bantuan air. Hingga 2 September 2026, total air bersih yang sudah disalurkan mencapai 809.200 liter, dengan Jembrana jadi penerima terbanyak sebesar 436.200 liter, disusul Buleleng 270.000 liter, Karangasem 65.000 liter, dan Klungkung 38.000 liter.
Meski distribusi air terus berjalan, Suryawan menegaskan pendekatan ini saja tidak cukup untuk jangka panjang. Menurutnya, penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan pengiriman air setelah warga sudah kesulitan mengaksesnya. Pemerintah perlu memperkuat ketersediaan sumber air dan infrastruktur pendukung agar lebih siap menghadapi musim kemarau yang risikonya terus meningkat.
Kesiapsiagaan sejak dini pun jadi kunci penting. Penguatan yang dibutuhkan mencakup ketersediaan dan perlindungan sumber air, sekaligus peningkatan kapasitas infrastruktur penyimpanan dan distribusi air ke wilayah-wilayah rawan kekeringan.
Dampak kekeringan ini pun mulai merambat ke sektor pertanian. BPBD Bali mencatat 188,55 hektare lahan pertanian sudah terdampak, dengan rincian 79,95 hektare di Jembrana dan 108,60 hektare di Buleleng. Yang lebih mengkhawatirkan, sebanyak 694,06 hektare dari total 64.704 hektare sawah di Bali berpotensi ikut mengalami kekeringan jika kondisi terus berlanjut.
Situasi ini jadi perhatian serius mengingat musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan disertai suhu yang relatif lebih tinggi dibanding kondisi normal di sejumlah wilayah Bali, sebuah sinyal yang menuntut kesiapan lebih matang dari semua pihak ke depannya.