Langsung ke konten
Bali Bali
News

BNPB Revisi Data Korban Gempa NTT, Kepala BNPB dan Menko PMK ke Nagekeo

Giostanovlatto
BNPB Revisi Data Korban Gempa NTT, Kepala BNPB dan Menko PMK ke Nagekeo

LambeTurahBali - Data yang beredar soal korban jiwa gempa NTT ternyata berubah, dan perubahan ini justru datang langsung dari BNPB sendiri, lengkap dengan permintaan maaf resmi.

Data Korban Diperbarui, BNPB Minta Maaf

Berdasarkan pemutakhiran dan validasi data hingga pukul 08.00 WIB, BNPB mencatat satu orang meninggal dunia dan empat orang luka-luka akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, NTT, Sabtu (15/8/2026) dini hari. Korban meninggal merupakan warga Kabupaten Sikka, sementara korban luka tersebar di Sikka dan Nagekeo.

Yang menarik, angka ini berubah dari laporan awal yang sempat menyebut dua orang meninggal dunia. Setelah verifikasi lebih lanjut di lapangan, BNPB mengoreksi datanya menjadi satu orang.

"BNPB menyampaikan permohonan maaf atas perihal ini pada laporan awal dan akan terus memastikan setiap informasi yang disampaikan telah melalui proses verifikasi," demikian keterangan resmi BNPB.

Di sinilah letak konteks yang sering hilang dari pemberitaan bencana skala besar: di jam-jam awal pascagempa, data korban memang rentan berubah karena laporan dari lapangan sering datang belum terverifikasi penuh, dan koreksi seperti ini justru menunjukkan proses validasi berjalan sebagaimana mestinya.

Dua Pejabat Tinggi Turun Langsung ke Lokasi

Merespons skala dampak gempa ini, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dijadwalkan segera turun langsung ke Kabupaten Nagekeo, titik terdekat dengan pusat gempa.

Kehadiran dua pejabat tinggi ini menandakan pemerintah pusat menempatkan penanganan gempa ini sebagai prioritas nasional, bukan sekadar diserahkan ke daerah terdampak saja.

Ribuan Warga Mengungsi Mandiri

Dampak sosial gempa ini juga terlihat dari skala evakuasi warga. Sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo melakukan evakuasi mandiri sebagai langkah kewaspadaan menyusul gempa dan peringatan dini tsunami. Di Kota Bima, NTB, satu kepala keluarga atau enam jiwa turut tercatat terdampak.

Sementara itu, kerusakan fisik yang berhasil didata sementara meliputi dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, satu gudang Bulog terdampak, tiga fasilitas umum rusak ringan, dan enam kantor pemerintahan ikut terdampak. BNPB menegaskan data ini masih bersifat sementara dan terus diperbarui bersama BPBD setempat.

Bantuan Udara Jadi Kunci di Wilayah Kepulauan

Untuk mempercepat penanganan, BNPB mengerahkan tim darurat guna melakukan kaji cepat, penanganan korban, pendataan dampak, hingga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Satu unit helikopter juga disiagakan untuk mobilisasi logistik dan kemungkinan evakuasi.

Dukungan udara ini bukan tanpa alasan. Kondisi geografis NTT yang terdiri dari banyak pulau membuat akses darat antarwilayah sering kali menjadi tantangan tersendiri saat situasi darurat seperti ini.

Kondisi Terkini di Lapangan

Guncangan gempa ini dirasakan luas, mulai dari Nagekeo, Sikka, dan Manggarai Barat di NTT, Kota Bima dan Kabupaten Bima di NTB, hingga Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros di Sulawesi Selatan. Peringatan dini tsunami sendiri sudah dinyatakan berakhir BMKG pada pukul 07.31.30 WIB setelah tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan.

Meski begitu, BNPB tetap mengimbau warga waspada terhadap gempa susulan dan tidak memasuki bangunan yang retak atau rusak. Di Kota Bima, situasi dilaporkan sudah kondusif, sementara di Nagekeo petugas masih menangani kondisi jalan yang macet dan aliran listrik yang masih padam.

Penanganan gempa ini akan terus berlanjut dengan koordinasi BNPB, BPBD, BMKG, Basarnas, TNI, Polri, dan kementerian terkait lainnya, sembari memastikan bantuan logistik dan pemulihan terus menyesuaikan kebutuhan riil di lapangan.

Berita Terkait