Fakta-fakta Kematian Pria Inggris di Kuta: Dikeroyok Dini Hari, 4 Pelaku Sudah Kabur ke Australia Sehari Setelahnya
LambeTurahBali - Bermula dari teguran biasa di sebuah bar, berujung pada kematian yang baru terungkap ke publik hampir dua minggu kemudian. Kasus Paul Innes Dougan, pria asal Inggris yang tewas usai diduga dikeroyok empat WNA di Kuta, menyisakan rentetan fakta yang bikin geleng kepala.
Berikut rangkaian fakta yang sudah terungkap sejauh ini.
Dikeroyok Dini Hari Usai Tegur Pelaku yang Ganggu Perempuan
Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, mengungkap pengeroyokan ini bermula dari kejadian sederhana di sebuah bar pada Rabu (5/8/2026) dini hari, sekitar pukul 02.00 Wita.
Saksi di lokasi melihat salah satu pelaku lebih dulu menegur seorang perempuan di tempat hiburan tersebut. Reaksi berikutnya yang berujung fatal.
"Salah satu pelaku tidak terima yang kemudian empat orang tersebut memukul korban," ungkap Adi.
Akibat pemukulan itu, Paul mengalami luka lebam di wajah dan sempat kesulitan berjalan. Yang bikin miris, ia baru mendapat penanganan medis tiga hari setelah kejadian.
Sempat Pulang ke Hotel, Baru Dirawat Setelah Kondisinya Memburuk
Setelah insiden itu, Paul awalnya kembali ke hotelnya di Kuta. Ia baru dijemput pihak RS Murni Teguh untuk mendapat perawatan, sebelum akhirnya sehari kemudian dibawa putranya, Liam Michael Dougan, ke IGD Rumah Sakit BIMC.
Di sanalah Paul menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia. Jasadnya kini berada di RSU Dharma Yadnya Denpasar.
Sempat Dirawat di ICU, Butuh 3 Operasi dan 4 Kali Transfusi Darah
Kondisi memburuknya Paul pertama kali terungkap ke publik bukan lewat keterangan resmi polisi, melainkan lewat unggahan Instagram sang anak, @liamdougann.
Liam mengungkap ayahnya sempat dirawat di ruang ICU sebelum meninggal. Detail yang diungkapnya cukup mengerikan, Paul mengalami patah tulang rusuk, harus menjalani tiga kali operasi, dan menerima transfusi darah sebanyak empat kali.
Empat Terduga Pelaku Sudah Dikantongi Identitasnya
Penyidik sejauh ini sudah mengantongi identitas empat orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan. Keempatnya merupakan warga negara Australia berinisial RGG, PAM, JRM, dan TRZ.
Empat Pelaku Sudah Kabur ke Australia Sehari Setelah Kejadian
Ini bagian yang paling bikin kasus ini terasa rumit. Keempat terduga pelaku ternyata sudah meninggalkan Indonesia jauh sebelum kasus ini dilaporkan ke polisi.
"Keempat orang tersebut berdasarkan data perlintasan keimigrasian tercatat telah meninggalkan wilayah Indonesia pada 6 Agustus 2026," tutur Adi.
Artinya, mereka terbang dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju Australia hanya sehari setelah insiden pengeroyokan terjadi, dan dua minggu sebelum kasus ini benar-benar dilaporkan secara resmi.
Autopsi Jadi Kunci Pastikan Penyebab Kematian
Sampai sekarang, polisi belum bisa memastikan apakah kematian Paul berkaitan langsung dengan pengeroyokan tersebut. Untuk memastikannya, penyidik berencana melakukan autopsi di RSUP Prof Ngoerah, Denpasar.
"Untuk itu penyidik akan berkoordinasi dengan dokter forensik agar dilakukan proses autopsi pada jenazah," pungkas Adi.
Penyidik Masih Dalami Peran Masing-masing Pelaku
Penyidik saat ini masih terus mendalami peran masing-masing dari empat terduga pelaku saat penganiayaan berlangsung, termasuk kejadian sebelum dan sesudah insiden tersebut.
Polisi juga masih menelusuri hubungan antar pelaku, serta hubungan mereka dengan Paul. Dengan keempat terduga pelaku sudah berada di luar negeri dan penyebab pasti kematian masih menunggu hasil autopsi, kasus ini masih menyisakan banyak pertanyaan yang butuh waktu untuk terjawab tuntas.
Tag Terkait