Langsung ke konten
Bali Bali
News

Kantor Imigrasi Labuan Bajo Layani Warga dari Tenda Darurat Usai Gempa

Giostanovlatto
Kantor Imigrasi Labuan Bajo Layani Warga dari Tenda Darurat Usai Gempa

LambeTurahBali - Bayangkan mengurus paspor bukan di ruangan ber-AC dengan nomor antrean digital, tapi di dalam tenda darurat. Itulah yang kini terjadi di Labuan Bajo.

Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo terpaksa memindahkan seluruh pelayanannya ke tenda-tenda darurat, buntut dari gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus lalu. Gedung kantor mereka ikut terdampak, dan sampai sekarang gempa susulan masih terus mengintai.

Gedung Tak Lagi Aman, Layanan Dipindah ke Luar

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, menjelaskan keputusan ini diambil murni demi keselamatan.

"Dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan gedung dan potensi terjadinya gempa susulan, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo menyiapkan alternatif pemindahan sementara pelayanan keimigrasian ke luar gedung kantor dengan menggunakan mobile unit dan tenda pelayanan," kata Charles dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026) malam.

Rencananya, skema darurat ini akan berlangsung selama dua minggu ke depan. Meski dilakukan di tenda, Charles menegaskan standar pelayanan tidak akan diturunkan begitu saja.

"Pelayanan keimigrasian di luar gedung ini dilaksanakan hingga dua minggu ke depan. Pelaksanaan tetap memperhatikan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pegawai maupun masyarakat yang menerima layanan," tegasnya.

Meski di Tenda, Layanan Tetap Jalan Seperti Biasa

Yang menarik, meski situasinya darurat, layanan keimigrasian ternyata tetap berjalan normal. Pada Jumat (21/8/2026) saja, tercatat delapan pemohon yang dilayani langsung di tenda darurat.

Rinciannya, dua pemohon layanan paspor dan enam pemohon layanan izin tinggal.

"Dua pemohon layanan paspor melalui M-Paspor dengan rincian satu permohonan baru dan satu permohonan penggantian, serta enam pemohon layanan izin tinggal, terdiri atas 2 ITK (izin tinggal kunjungan) dan 4 VOA (visa on arrival)," jelas Charles.

Kalau dipikir-pikir, angka delapan pemohon dalam sehari ini menunjukkan satu hal, kebutuhan masyarakat dan wisatawan asing terhadap layanan keimigrasian tidak berhenti begitu saja hanya karena bencana. Justru di situasi seperti inilah pelayanan publik dituntut tetap jalan, meski infrastrukturnya jauh dari ideal.

Potret Kecil dari Pemulihan yang Sedang Berlangsung

Kantor imigrasi yang beroperasi dari tenda ini sebenarnya jadi salah satu potret kecil dari bagaimana Labuan Bajo, sebagai gerbang wisata utama menuju Taman Nasional Komodo, terus berusaha bertahan dan melayani di tengah masa pemulihan pascagempa.

Bagi warga sekitar maupun wisatawan asing yang punya urusan paspor atau visa di Labuan Bajo dalam dua minggu ke depan, kabar baiknya jelas, layanan tetap ada, hanya saja lokasinya sementara berubah dari gedung ber-AC menjadi tenda di halaman kantor.

Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah dua minggu cukup untuk memastikan gedung kembali aman, atau justru masa darurat ini akan berlanjut lebih lama, tergantung seberapa sering gempa susulan masih akan terjadi di wilayah Manggarai Barat.

Berita Terkait