Merdeka Bukan Sekadar Upacara, Tapi Berani Bicara Saat Ada yang Salah
Setiap 17 Agustus, kita sibuk memasang bendera.
Di depan rumah. Di gang. Di sekolah. Di kantor. Di jalan raya.
Lalu kita ikut upacara, menyanyikan Indonesia Raya, mengikuti lomba, makan bersama, dan mengucapkan satu kata yang terdengar sangat familiar: merdeka.
Tapi setelah semua selesai, dan bendera kembali dilipat, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri.
Sebenarnya, merdeka itu apa?
Merdeka Bukan Cuma Tentang Masa Lalu
Indonesia memang sudah 81 tahun merdeka.
Tapi kemerdekaan bukan benda yang selesai begitu saja pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan sehari-hari, jauh setelah lagu kebangsaan berhenti dinyanyikan.
Ketika masyarakat berani menyampaikan kritik tanpa takut dibungkam.
Ketika orang kecil punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan keadilan.
Ketika kekuasaan tidak merasa selalu benar hanya karena memiliki jabatan.
Dan ketika rakyat tidak diminta diam hanya karena pertanyaannya dianggap mengganggu.
Di situlah letak makna kemerdekaan yang sesungguhnya, jauh lebih besar daripada sekadar upacara dan lomba panjat pinang.
Kritik Bukan Berarti Membenci Negeri
Lambe Turah Bali percaya, mencintai Indonesia tidak harus selalu dengan memuji.
Kadang justru kritik adalah bentuk kepedulian yang paling jujur.
Kalau ada ketidakadilan, ya harus dikatakan. Kalau ada kebijakan yang merugikan masyarakat, ya harus ditanyakan. Kalau ada sesuatu yang salah, jangan buru-buru meminta orang diam hanya karena kritiknya dianggap tidak nasionalis.
Masalahnya, negeri ini tidak akan menjadi lebih baik kalau semua orang memilih diam.
Indonesia membutuhkan masyarakat yang berani bertanya, berani mengawasi, dan berani mengatakan sesuatu yang tidak benar. Bukan masyarakat yang hanya ramai ketika ada lomba tujuh belasan, lalu kembali bungkam di 364 hari berikutnya.

Bali Juga Punya Suara
Bali punya cara sendiri untuk menjaga keseimbangan.
Ada tradisi, ada adat, ada ruang untuk berbeda pendapat. Tapi di tengah perubahan yang semakin cepat, Bali juga menghadapi banyak pertanyaan tentang masa depannya.
Tentang pariwisata. Tentang lingkungan. Tentang tanah. Tentang ruang hidup masyarakat lokal. Tentang siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi, dan siapa yang justru harus menanggung dampaknya.
Karena itu, semangat kemerdekaan tidak boleh berhenti pada mengibarkan Merah Putih di halaman rumah.
Bali juga membutuhkan generasi yang berani bersuara ketika melihat sesuatu yang tidak beres. Bukan untuk membuat gaduh. Bukan untuk mencari musuh. Tapi karena diam bukan selalu tanda kedamaian.
Kadang diam hanya berarti tidak ada yang berani bertanya.
81 Tahun Indonesia
Lambe Turah Bali ingin melihat Indonesia yang bukan hanya maju secara angka, tapi juga dewasa dalam menerima kritik.
Indonesia yang tidak takut pada suara rakyatnya sendiri.
Indonesia yang tidak alergi terhadap pertanyaan.
Indonesia yang memberi ruang bagi anak mudanya untuk berbeda pendapat, tanpa harus buru-buru dicap macam-macam.
Sebab kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan adalah keberanian untuk mengatakan yang benar, menolak yang salah, dan tetap berdiri bersama ketika negeri ini membutuhkan kita.
81 tahun Indonesia.
Benderanya boleh berkibar semakin tinggi. Tapi suara rakyat juga jangan pernah dibuat semakin kecil.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Lambe Turah Bali
Viral. Berani. Terpercaya.
Tag Terkait