Langsung ke konten
Bali Bali
News

PLN: Bali Krisis Listrik! Nyala Bergilir 2027, Ini Penyebabnya

Giostanovlatto
PLN: Bali Krisis Listrik! Nyala Bergilir 2027, Ini Penyebabnya

LambeTurahBali - Selama ini banyak yang mengira Bali sudah aman soal listrik, bahkan surplus. Ternyata, kenyataannya jauh dari itu.

PLN baru saja membuka fakta yang cukup mengejutkan, cadangan listrik Bali sebenarnya sangat tipis. Kalau sampai 2027 tidak ada tambahan pasokan energi, Pulau Dewata berpotensi menghadapi skema yang disebut "nyala bergilir".

Bukan Pemadaman Bergilir, Tapi "Nyala" Bergilir

General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim, langsung meluruskan salah kaprah yang selama ini beredar di masyarakat.

"Orang tahunya Bali sudah surplus energi, padahal dalam tanda petik sebetulnya tidak. Kalau 2027 Bali tidak ada tambahan suplai energi, maka ada kemungkinan Bali akan ada nyala bergilir," ungkap Arjun di Denpasar, Kamis (20/8/2026) seperti yang dikutip dari detik.

Istilah "nyala bergilir" ini menarik untuk dipahami. Bukan berarti listrik mati bergiliran seperti pemadaman biasa, tapi justru sebaliknya, listrik yang nyala bergiliran karena pasokan yang tidak cukup untuk menyalakan semua area sekaligus.

Beban Puncak Sudah Nyaris Menyentuh Batas Maksimal

Angka yang diungkap Arjun cukup bikin was-was. Beban puncak penggunaan listrik di Bali saat ini sudah mencapai sekitar 1.295-1.300 megawatt, sementara total kapasitas daya terpasang dari seluruh pembangkit di Bali hanya sekitar 1.477 MW.

Kalau dihitung, artinya jarak antara beban puncak dan kapasitas maksimal cuma sekitar 177 MW. Angka yang terdengar besar, tapi sebenarnya sangat tipis kalau melihat pertumbuhan konsumsi listrik yang terus melonjak setiap tahunnya.

"Bali saat ini beban puncak 1.300 diampu oleh daya terpasang sistem itu dari bauran energi macam-macam, ada PLTG, PLTGU, ada PLTU Celukan Bawang, ada PLTS di Medco. Itu cuma 1.477 MW dengan catatan tidak ada mesin rusak," imbuhnya.

Perhatikan kalimat terakhir itu, "dengan catatan tidak ada mesin rusak". Artinya, angka 1.477 MW ini adalah kondisi ideal, bukan jaminan yang selalu bisa diandalkan.

Satu Unit Pembangkit Sedang Rusak, Bali Kehilangan 100 MW

Inilah yang membuat situasinya makin genting. Unit 5 PLTD Pesanggaran berkapasitas 100 MW saat ini sedang menjalani pemeliharaan atau overhaul, membuat sistem kelistrikan Bali otomatis kehilangan pasokan sebesar itu.

Untuk menutup kekurangan ini, PLN terpaksa harus tetap mengoperasikan PLTD, meski jenis pembangkit ini dikenal bising dan menghasilkan emisi.

"Kalau 100 MW, maka mau tidak mau PLTD yang katanya orang itu bising, ada emisi, harus kami operasikan. Kalau enggak dioperasikan, maka kita akan dapat istilahnya nyala bergilir, bukan pemadaman bergilir. Nyalanya bergilir," imbuh Arjun.

Bali Juga Masih Bergantung pada Suplai dari Jawa

Yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat, sistem kelistrikan Bali sebenarnya tidak berdiri sendiri. Pulau ini masih mengandalkan pasokan listrik dari Jawa lewat empat sirkuit kabel bawah laut.

Setiap sirkuit punya kapasitas maksimal sekitar 100 MW, tapi kenyataannya jarang dioperasikan secara maksimal.

"Saat ini, Pulau Bali masih mendapat suplai dari Pulau Jawa empat sirkuit kabel itu kalau dioperasi maksimal 100 MW. Tapi enggak dioperasi maksimal, dioperasikan 60 sampai 80. Jadi, saat ini mendapatkan kiriman suplai dari Jawa kurang lebih sekitar 270 MW," kata Arjun.

Artinya, Bali sebenarnya cukup rentan. Kalau suatu saat suplai dari Jawa terganggu, sementara pembangkit lokal juga bermasalah, risiko krisis listrik bisa datang lebih cepat dari perkiraan.

Solusinya, PLTS Besar-besaran Sampai 2029

Untuk mengantisipasi skenario terburuk, PLN bersama pemerintah tengah mendorong pembangunan energi baru terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025-2034, PLN menargetkan tambahan kapasitas PLTS sekitar 1.450 MW, dengan proyek ditargetkan rampung pada 2029.

Yang lebih relevan buat situasi mendesak saat ini, sekitar 600 MW dari tambahan kapasitas itu ditargetkan sudah bisa masuk ke sistem kelistrikan Bali pada 2027, tepat di tahun yang disebut Arjun sebagai titik kritis.

Sayangnya, progres saat ini masih jauh dari target. PLTS yang beroperasi di wilayah PLN UID Bali baru satu, yakni milik Medco di Kubu, Karangasem, dengan kapasitas sekitar 25 MW saja.

Butuh Lahan Luas, PLN Incar Lahan Tak Produktif

Salah satu tantangan besar pembangunan PLTS adalah kebutuhan lahan yang cukup luas. Arjun memperkirakan setiap 1 MW kapasitas PLTS membutuhkan lahan sekitar 1 hektare, artinya untuk mencapai 600 MW saja dibutuhkan sekitar 600 hektare lahan.

Untuk mengatasi kendala ini, PLN akan memprioritaskan lahan yang selama ini tidak produktif.

"Lahan kita akan prioritas pertama pada lahan tidak produktif, lahan tandus, terus lahan kehutanan, ataupun lahan milik masyarakat yang selama ini tidak dimaksimalkan pemanfaatannya," pungkasnya.

Dengan waktu yang semakin sempit menuju 2027, pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah Bali butuh tambahan pasokan listrik, tapi seberapa cepat proyek PLTS ini bisa benar-benar terealisasi sebelum ancaman nyala bergilir menjadi kenyataan.

Berita Terkait