Langsung ke konten
Bali Bali
News

Sumur Bor sampai Truk Tangki, Ini Cara Bali Bersiap Hadapi Kemarau Panjang

Giostanovlatto
Sumur Bor sampai Truk Tangki, Ini Cara Bali Bersiap Hadapi Kemarau Panjang

Laporan: Destarita Rahmawati

LambeTurahBali - Kalau belakangan kamu merasa musim kemarau tahun ini terasa lebih menyengat dari biasanya, ternyata bukan cuma perasaanmu saja.

Pemerintah Provinsi Bali sudah lebih dulu membaca gelagat ini. Mereka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kekeringan yang mengintai selama musim kemarau berlangsung, sebelum situasinya benar-benar memburuk di lapangan.

Kekeringan Bukan Cuma Soal Panas, Tapi Soal Air

Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menegaskan bahwa kemarau bukan sekadar cuaca panas biasa.

"Sekarang kita kan sedang menghadapi situasi kemarau ya. Kemarau juga bisa berpotensi terjadinya bencana, bencana kekeringan, keterbatasan sumber daya air," ujarnya kepada awak media, Senin (17/8/2026).

Di sinilah letak yang perlu dipahami masyarakat. Kekeringan bukan sekadar tidak ada hujan, tapi ancaman nyata terhadap akses air bersih yang jadi kebutuhan dasar sehari-hari.

Air Bersih Mulai Didistribusikan ke Buleleng dan Bangli

Untuk mengantisipasi hal ini, BPBD Provinsi Bali sudah lebih dulu bergerak berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Distribusi air bersih sudah mulai berjalan di beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Buleleng dan Bangli, dua daerah yang selama ini memang cukup rentan terdampak kemarau panjang. Langkah ini melibatkan banyak pihak sekaligus, BPBD, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, hingga PDAM.

Kalau dipikir-pikir, kolaborasi lintas dinas seperti ini penting karena kekeringan bukan masalah yang bisa diselesaikan satu instansi saja. Butuh sinergi dari hulu ke hilir agar bantuan benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan.

Sawah dan Ladang Juga Butuh Perhatian

Bukan cuma kebutuhan rumah tangga, sektor pertanian juga jadi perhatian serius pemerintah selama musim kemarau ini.

Dinas Pertanian Bali berkoordinasi langsung dengan Kementerian Pertanian untuk memetakan dan mengaktifkan sumur-sumur bor yang bisa dimanfaatkan petani selama kemarau berlangsung.

Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan langkah konkret yang sudah dijalankan.

"Kalau kekeringan, upaya yang harus kita lakukan bagaimana mendapatkan air, membantu masyarakat, baik air bersih maupun air pertanian. Sumur bor-sumur bor mana yang bisa diaktifkan, yang mana bisa dibuatkan, sudah dipetakan semua dan sudah dikerjakan," ujarnya.

Masalahnya, petani sering jadi kelompok yang paling terdampak saat musim kemarau tiba, karena hasil panen mereka bergantung langsung pada ketersediaan air. Langkah pemetaan sumur bor ini jadi penting supaya lahan pertanian Bali tidak sampai gagal panen akibat kekurangan pasokan air.

Berharap Kemarau Tidak Berlangsung Terlalu Lama

Di akhir keterangannya, Dewa Indra menyampaikan harapan yang mungkin juga dirasakan banyak warga Bali saat ini.

"Tentu kita berharap kemarau panjang ini bisa tidak terlalu lama dan kita bisa segera memasuki tahapan musim hujan," pungkasnya.

Dengan langkah-langkah yang sudah mulai berjalan ini, masyarakat di wilayah rawan kekeringan seperti Buleleng dan Bangli setidaknya punya jaring pengaman lebih awal, sebelum musim kemarau benar-benar mencapai titik puncaknya.

Berita Terkait