Langsung ke konten
Bali Bali
Entertainment

Maia Estianty Ungkap Pernah Tak Bisa Menangis Sama Sekali, Sampai Rela ke Psikolog demi Bisa Merasakan Sedih

Giostanovlatto
Maia Estianty Ungkap Pernah Tak Bisa Menangis Sama Sekali, Sampai Rela ke Psikolog demi Bisa Merasakan Sedih

LambeTurahBali - Ada fase dalam hidup Maia Estianty yang mungkin jarang dibayangkan orang, sebuah masa di mana ia sama sekali tidak bisa menangis, bahkan saat menyaksikan kematian tepat di depan matanya sendiri.

Musisi ini blak-blakan menceritakan pengalamannya lewat Maia AlElDul tv. "Memang enggak bisa nangis, dipaksain enggak bisa, susah," kata Maia.

Bukan karena ia tidak peduli atau kehilangan empati. Justru yang ia rasakan lebih membingungkan dari itu, semacam ketidakmampuan tubuh untuk memproses emosi sedih menjadi air mata.

"Aku kayak berdarah dingin gitu, bukan (tidak berempati), (tapi) kayak enggak bisa, gimana caranya (merasakan sedih sampai menangis), bingung," jelasnya.

Karena emosi itu tidak bisa keluar lewat tangisan, tubuh Maia justru mencari jalan lain untuk merespons. Reaksi yang muncul pun tidak biasa, jauh dari sekadar kesedihan yang terlihat di permukaan.

"Karena tidak bisa keluar nangis, akhirnya jadi kayak pengin munt*h," ungkap Maia. "Kayak ketahan, ada sesuatu yang jadi 'gimana cara ngeluarinnya gitu,' kan enggak bisa ya. Jadi akhirnya mual," jelasnya.

Momen yang benar-benar membuka matanya soal kondisi ini terjadi saat ia menyaksikan langsung kematian seseorang, dan tidak merasakan apa-apa. "Aku kenapa ya pada saat itu enggak bisa menangis ya. Lihat orang meninggal di depanku, kayak enggak ada hati," ungkapnya.

Ketiadaan rasa itu bahkan sampai membuatnya berpikir sesingkat dan sedatar ini. "'Oh mati, ya biarin aja'. Jadi kayak enggak ada perasaan," tuturnya.

Menyadari ada yang tidak beres dengan caranya memproses emosi, Maia akhirnya memutuskan mencari bantuan profesional. "Jadi pada akhirnya aku konseling ke psikolog, terapi. Dan aku menyadari punya kekurangan, 'gue kayaknya butuh nih'," ucapnya.

Lewat proses hipnoterapi, perlahan Maia berhasil menemukan kembali kemampuannya untuk menangis. Dari pengalaman ini, ia ingin menegaskan satu hal penting kepada publik, bahwa mencari bantuan psikolog bukan aib.

Menurutnya, mengakui adanya gangguan mental dan mengunjungi psikolog justru langkah yang berguna, baik untuk kenyamanan diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.

Berita Terkait