Pemilik Spa di Seminyak Diburu Polisi, Diduga Sediakan Prostitusi Sesama Jenis
LambeTurahBali - Sebuah spa di kawasan elite Seminyak ternyata menyimpan cerita yang jauh dari kesan tempat relaksasi biasa. Di baliknya, polisi menduga ada praktik prostitusi sesama jenis yang berjalan diam-diam.
Dari Keresahan Warga ke Penggerebekan
Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bali kini tengah memburu AC, pemilik spa di Jalan Drupadi, Kelurahan Seminyak, Kuta, Badung. Ia diduga menjalankan praktik prostitusi sesama jenis di tempat usahanya sendiri.
Kasus ini bukan muncul tiba-tiba. Titik awalnya adalah laporan masyarakat yang resah dengan aktivitas di spa tersebut, yang diduga menawarkan "layanan tambahan" di luar jasa pijat biasa.
"Tapi memang dasar penyidikan kasus ini berawal dari laporan masyarakat yang merasa resah dengan kegiatan spa yang diduga melayani layanan tambahan sesama jenis," ujar Kabid Humas Polda Bali, Kombes Ariasandy, Jumat (14/8/2026).
Berbekal laporan itu, polisi melakukan penggerebekan pada 27 Juli lalu. Lima terapis spa diamankan, bersama barang bukti berupa perangkat transaksi elektronik, dokumen administrasi, bukti transaksi, telepon genggam, hingga uang tunai.
Sang Pemilik Masih Menghilang
Yang menarik, hampir tiga minggu sejak penggerebekan, sosok yang paling dicari justru belum juga ditemukan. AC, sang pemilik spa, hingga kini masih buron.
"Kasus ini masih dalam proses penyidikan. Lima orang yang diamankan masih berstatus sebagai saksi," kata Ariasandy.
Status "saksi" pada kelima terapis ini penting untuk dicermati. Artinya, polisi masih memfokuskan penyidikan pada pihak yang mengendalikan operasional spa, bukan pekerja yang mungkin hanya menjalankan instruksi.
Jejak Digital Jadi Kunci Pembongkaran
Untuk memperkuat penyidikan, polisi memeriksa ponsel para terapis guna menelusuri jejak komunikasi digital. Langkah ini penting karena praktik semacam ini biasanya diatur lewat pesan singkat, aplikasi chat, atau transaksi digital yang meninggalkan rekam jejak elektronik.
Polisi juga belum mengungkap sudah berapa lama spa ini beroperasi menawarkan layanan ilegal tersebut. Ariasandy menyebut hal itu masih didalami lebih lanjut dalam proses penyidikan.
Di sinilah letak konteks yang sering hilang dari kasus semacam ini: bisnis spa yang tampak legal di permukaan bisa saja menyembunyikan praktik ilegal bertahun-tahun sebelum akhirnya terbongkar lewat laporan warga yang jeli.
Publik kini menanti apakah AC bisa segera ditemukan, dan apakah pemeriksaan jejak digital para terapis akan membuka lebih banyak fakta soal skala sebenarnya dari praktik ini.