Langsung ke konten
Bali Bali
Lifestyle

10 Negara Paling Mudah Marah di Dunia 2026, Indonesia Masuk?

Giostanovlatto
10 Negara Paling Mudah Marah di Dunia 2026, Indonesia Masuk?

LambeTurahBali - Pernah merasa orang-orang di sekitar makin gampang tersulut? Ternyata, kalau melihat data global, rasa marah memang bukan sekadar soal suasana hati.

Laporan emosi global Gallup menunjukkan sekitar satu dari lima orang di dunia mengalami kemarahan pada hari sebelum mereka diwawancarai. Survei tersebut dilakukan melalui wawancara tatap muka maupun telepon terhadap orang berusia 15 tahun ke atas di 144 negara dan wilayah.

Yang menarik, negara-negara dengan persentase kemarahan tertinggi bukan muncul secara acak. Banyak di antaranya sedang berhadapan dengan perang, krisis kemanusiaan, tekanan ekonomi, atau ketidakstabilan politik. Jadi, angka “mudah marah” dalam survei ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran tekanan kehidupan yang dirasakan masyarakat, bukan label bahwa penduduk suatu negara memang memiliki sifat pemarah.

Di posisi pertama ada Chad, dengan 47 persen responden mengaku mengalami kemarahan sehari sebelum survei. Berikutnya Yordania 46 persen dan Armenia 43 persen.

10 negara dengan tingkat kemarahan tertinggi

  1. Chad – 47%

  2. Yordania – 46%

  3. Armenia – 43%

  4. Irak – 40%

  5. Sierra Leone – 40%

  6. Guinea – 39%

  7. Republik Demokratik Kongo – 38%

  8. Palestina – 38%

  9. Iran – 37%

  10. Maroko – 37%

Lalu kenapa angka ini bisa begitu tinggi?

Contohnya Republik Demokratik Kongo. Negara tersebut masih menghadapi konflik berkepanjangan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Data yang dikutip dalam sumber menyebut 27,7 juta orang mengalami kelaparan akut pada 2025, sementara lebih dari 7,8 juta orang mengungsi. Kekerasan juga mengganggu mata pencaharian, memperburuk inflasi, dan membatasi akses terhadap makanan serta bantuan kemanusiaan.

Situasinya bahkan diperburuk oleh wabah penyakit di sejumlah wilayah yang terdampak konflik.

Irak juga masuk dalam daftar. Negara tersebut disebut masih menghadapi persoalan ketertiban dan stabilitas sejak invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada 2003. Sementara di Palestina, konflik, pembatasan, dan tekanan ekonomi ikut membentuk kehidupan sehari-hari masyarakat dalam kondisi penuh tekanan.

Jadi, kalau melihat daftar ini, ada satu hal yang cukup penting: kemarahan masyarakat ternyata sering kali punya cerita panjang di belakangnya.

Bukan sekadar orang yang bangun tidur lalu tiba-tiba ingin marah.

Berita Terkait