Langsung ke konten
Bali Bali
Lifestyle

Mpox Naik di Thailand, Kenapa Bali Perlu Waspada?

Giostanovlatto
Mpox Naik di Thailand, Kenapa Bali Perlu Waspada?

LambeTurahBali - Mpox adalah penyakit akibat infeksi virus monkeypox. Penyakit ini paling dikenal karena munculnya ruam atau luka pada kulit, tetapi gejalanya bisa diawali demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Ruam dapat muncul di wajah, tangan, kaki, area genital, anus, mulut hingga tenggorokan.

Sebagian besar orang dapat pulih dalam beberapa minggu. Tetapi Mpox bukan berarti penyakit yang selalu ringan. WHO mencatat sebagian pasien dapat mengalami komplikasi serius seperti infeksi bakteri, pneumonia, gangguan penglihatan hingga sepsis. Risiko penyakit berat dan kematian lebih tinggi pada orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, termasuk HIV yang tidak terkontrol, serta pada kelompok tertentu seperti anak-anak dan ibu hamil.

Lalu bagaimana virus ini menyebar?

Kontak dekat adalah kata kuncinya.

Mpox dapat menular melalui kontak langsung dengan lesi atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, termasuk melalui hubungan seksual. Kontak kulit ke kulit, berciuman, serta kontak dekat dalam jarak sangat dekat juga dapat menjadi jalur penularan. Virus juga dapat berpindah melalui benda yang terkontaminasi seperti pakaian atau linen.

Karena itu, menyebut Mpox semata-mata sebagai penyakit yang muncul karena “main sembarangan” justru terlalu menyederhanakan persoalan.

Di Thailand, perkembangan kasus kini menjadi perhatian. Hingga 23 Agustus 2026, otoritas kesehatan Thailand mencatat 254 kasus Mpox sejak awal tahun. Kasus ditemukan terutama di Bangkok, sejumlah kota besar, serta provinsi tujuan wisata.

Varian Clade Ib menjadi bagian yang paling diperhatikan karena dikaitkan dengan risiko penyakit yang lebih berat pada kelompok tertentu.

Lantas, apa hubungannya dengan Bali?

Di sinilah berita dari Thailand menjadi relevan bagi pembaca Bali.

Bali bukan pulau yang berdiri sendiri. Setiap hari ada pergerakan manusia dari berbagai negara menuju Denpasar, termasuk dari kawasan Asia Tenggara. Karena itu, perkembangan penyakit menular di negara tujuan wisata lain tetap layak diperhatikan, terutama oleh pelaku pariwisata, pekerja yang berinteraksi dengan wisatawan, dan masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri.

Ini bukan berarti Bali sedang mengalami wabah Mpox.

Bahkan pada 2024, Dinas Kesehatan Badung sudah mengeluarkan surat kewaspadaan Mpox yang meminta penguatan pemantauan, pencegahan, deteksi, dan respons di wilayah tersebut.

Indonesia juga pernah memperketat pengawasan di pintu masuk internasional ketika risiko Mpox meningkat. Pemeriksaan mencakup pemantauan gejala dan riwayat perjalanan, dengan penanganan lanjutan bagi penumpang yang dicurigai mengalami Mpox.

Jadi, yang perlu dilakukan bukan panik.

Yang lebih masuk akal adalah kenali gejalanya, pahami cara penularannya, dan jangan mengabaikan pemeriksaan medis ketika muncul gejala yang mencurigakan.

Apalagi WHO menyebut orang yang terinfeksi dapat menularkan Mpox sampai seluruh luka sembuh dan terbentuk lapisan kulit baru.

Untuk Bali, perkembangan di Thailand mungkin bukan alarm bahwa wabah sudah tiba. Tetapi ini adalah pengingat bahwa di tengah lalu lintas wisatawan yang tidak pernah benar-benar berhenti, kewaspadaan kesehatan juga tidak boleh ikut berhenti.

Berita Terkait