Langsung ke konten
Bali Bali
News

AI Bukan Cuma Boros Listrik, Air Laut Juga Ikut Kena Getahnya

Giostanovlatto
AI Bukan Cuma Boros Listrik, Air Laut Juga Ikut Kena Getahnya

LambeTurahBali - Selama ini, ketika orang membicarakan dampak lingkungan dari AI, pembahasannya hampir selalu berhenti di satu hal: listrik.

Berapa besar energi yang dibutuhkan pusat data? Seberapa banyak emisi yang dihasilkan? Dari mana listrik itu berasal?

Padahal ada sumber daya lain yang diam-diam ikut masuk dalam perlombaan AI: air.

Dan ketika industri pusat data mulai tumbuh di kawasan pesisir, pertanyaannya menjadi lebih besar. Bukan cuma soal air tawar, tetapi juga bagaimana teknologi ini berinteraksi dengan laut dan ekosistem di sekitarnya.

Server Makin Pintar, Tapi Tetap Harus Didinginkan

AI memang bekerja secara digital. Tetapi infrastrukturnya sangat nyata.

Model AI membutuhkan pusat data dengan ribuan hingga jutaan komponen komputasi yang bekerja menghasilkan panas. Panas tersebut harus dibuang agar server tetap beroperasi.

Salah satu pendekatan yang digunakan industri adalah sistem pendinginan berbasis air.

Masalahnya, konsumsi air tidak berhenti di ruang server.

Ada air yang digunakan secara langsung untuk sistem pendinginan. Ada pula jejak air tidak langsung yang berkaitan dengan produksi listrik serta pembuatan perangkat keras seperti chip dan semikonduktor.

Jadi, ketika kita bertanya seberapa besar jejak lingkungan AI, pertanyaannya tidak cukup hanya:

Berapa banyak listrik yang digunakan?

Pertanyaan berikutnya harus:

Berapa banyak air yang dibutuhkan untuk membuat seluruh sistem itu tetap berjalan?

Angkanya Mulai Membuat Orang Harus Berhenti Sejenak

Sebuah studi yang terbit pada 2026 memperkirakan jejak air global AI dapat mencapai sekitar 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027.

Angka tersebut merupakan proyeksi dan memiliki tingkat ketidakpastian. Namun skalanya memberi gambaran tentang satu persoalan yang mulai sulit diabaikan: pertumbuhan AI bukan hanya membutuhkan lebih banyak komputer, tetapi juga lebih banyak sumber daya fisik untuk membuat komputer tersebut tetap bekerja.

Yang menarik, jejak air AI juga tidak selalu berada di lokasi tempat pengguna menekan tombol "generate".

Sebuah pusat data mungkin berada di satu wilayah, sementara konsumsi air lainnya muncul dari pembangkit listrik dan rantai pasok perangkat keras yang berada jauh dari sana.

Artinya, jejak air AI bisa jauh lebih luas daripada bangunan pusat datanya sendiri.

Berita Terkait