AI Bukan Cuma Boros Listrik, Air Laut Juga Ikut Kena Getahnya
Patrick Nasution: Jangan Sampai Manfaatnya Global, Bebannya Lokal

Pemerhati lingkungan Patrick Nasution melihat persoalan ini tidak boleh berhenti pada perdebatan mengenai berapa megawatt listrik yang dibutuhkan AI.
Menurutnya, ada dimensi ekologis yang jauh lebih luas dan mulai harus masuk dalam pembicaraan publik.
"Selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak listrik yang dibutuhkan AI, sampai lupa bahwa listrik bukan satu-satunya sumber daya yang dikonsumsi. AI membutuhkan air untuk pendinginan, membutuhkan lahan untuk pusat data, membutuhkan material untuk membangun infrastrukturnya, dan ketika infrastrukturnya berada di wilayah pesisir, interaksinya dengan laut juga harus dihitung."
Menurut Patrick, persoalan terbesar justru muncul ketika manfaat teknologi bersifat global, sementara dampak ekologisnya terkonsentrasi di lokasi tertentu.
"Yang harus kita pertanyakan adalah siapa yang menikmati manfaat AI dan siapa yang menanggung biaya ekologisnya. Orang di tempat lain bisa menikmati layanan AI dalam hitungan detik, tetapi masyarakat di sekitar pusat data bisa berhadapan langsung dengan tekanan terhadap air, energi, lahan dan ekosistem."
Ia menilai narasi tentang AI sebagai teknologi masa depan tidak boleh membuat masyarakat lupa bahwa teknologi tersebut tetap membutuhkan sumber daya dari bumi.
"Jangan sampai kita menyebut AI sebagai teknologi masa depan, tetapi untuk membangun masa depan itu kita justru menghabiskan sumber daya yang seharusnya diwariskan kepada generasi berikutnya. Pertanyaannya bukan hanya seberapa pintar AI, tetapi berapa besar bumi harus membayar agar AI bisa terus bekerja."
Laut Bukan Gudang Air yang Bisa Dipakai Tanpa Batas
Ini menjadi semakin penting bagi wilayah pesisir.
Bayangkan sebuah pusat data berskala besar dibangun dekat laut. Lokasinya strategis. Air laut tersedia. Infrastruktur energi tersedia.
Secara bisnis, semuanya mungkin terlihat masuk akal.
Tetapi dari sisi lingkungan, daftar pertanyaannya justru baru dimulai.
Bagaimana air laut diambil?
Berapa volumenya?
Bagaimana panas dari sistem pendinginan dilepaskan?
Apa yang terjadi dengan air berkadar garam tinggi dari proses desalinasi?
Seberapa besar energi yang dibutuhkan?
Dan yang paling penting, apa dampaknya terhadap ekosistem laut di sekitar lokasi?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin relevan bagi daerah seperti Bali yang bergantung sangat besar pada kesehatan ekosistem pesisir dan laut.
Sebab laut bukan sekadar sumber air alternatif.
Laut adalah habitat, ruang hidup, sumber ekonomi, sekaligus bagian penting dari sistem ekologis yang menopang masyarakat pesisir.
Tag Terkait