Langsung ke konten
Bali Bali
Iklan
News

Kronologi Dugaan Ayah Bunuh Anak lalu Gantung Diri di Kuta

Giostanovlatto
Kronologi Dugaan Ayah Bunuh Anak lalu Gantung Diri di Kuta
Penemuan jasad WN Australia dan dua anaknya di sebuah bungalow di Legian, Kuta, Badung, Minggu (13/9/2026). (Foto: Dok. Polda Bali)
Iklan

LambeTurahBali - Ini tragedi yang bikin ngeri sekaligus mengiris hati sekaligus, di sebuah bungalow di Legian, Kuta, Badung. Polisi kini menduga seorang ayah warga negara Australia, SDJ (56), membekap dan mencekik kedua anaknya sendiri sebelum mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Kedua anak SDJ, ADS (6) dan LKS (4), ditemukan tewas tergeletak di dalam bungalow, sementara sang ayah ditemukan dalam kondisi tergantung. Kabid Humas Polda Bali, Kombes Ariasandy, menjelaskan dugaan ini didasarkan pada pemeriksaan luar terhadap ketiga jasad saat pertama kali ditemukan. "Diduga korban kedua anaknya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan meninggal dengan cara dibekap dan dicekik, setelah itu bapaknya mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri," tuturnya, Senin (14/9/2026).

Yang membuat kasus ini terasa berbeda dari sekadar tragedi keluarga adalah proses yang masih berlangsung di baliknya. Polisi belum memastikan ini sebagai fakta final, melainkan dugaan awal berdasarkan kondisi jasad, dan proses autopsi di RSUP Prof. IGNG Ngoerah menjadi kunci untuk memastikan penyebab kematian ketiganya secara pasti, termasuk kemungkinan urutan kejadian yang sebenarnya.

Pantauan di lokasi kejadian pada Senin siang menunjukkan sisi lain dari tragedi ini, kehidupan yang tetap berjalan di sekitarnya. Bungalow tempat kejadian dipasangi garis polisi, tapi bungalow-bungalow lain di kompleks yang sama masih beroperasi normal dan dihuni tamu lain. Dari luar, hanya terlihat sepasang sandal dan alat kebersihan tergeletak di depan unit tersebut, tanpa aktivitas kepolisian yang mencolok saat itu.

Penghuni lain di kompleks bungalow memilih tidak memberikan pernyataan kepada media, sikap yang cukup umum terjadi setelah tragedi semacam ini, baik karena syok maupun keinginan menjaga privasi tamu lain yang masih menginap di sana.

Ariasandy menegaskan hasil pemeriksaan forensik nantinya akan jadi dasar utama pendalaman kasus ini lebih lanjut. "Pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan forensik atau otopsi diperlukan untuk memastikan penyebab kematian," pungkasnya. Sampai hasil autopsi keluar, publik diimbau menahan diri untuk tidak berspekulasi lebih jauh soal motif di balik tragedi yang merenggut tiga nyawa dalam satu keluarga ini.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala depresi dengan kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, segera hubungi psikolog, psikiater, atau layanan Sejiwa di 119 ext. 8 untuk mendapatkan pendampingan profesional.

Berita Terkait

Iklan