Langsung ke konten
Bali Bali
Iklan
News

Merapi Muntahkan Lava Pijar 17 Kali dalam Sehari, Suplai Magma Masih Terus Mengalir

Giostanovlatto
Merapi Muntahkan Lava Pijar 17 Kali dalam Sehari, Suplai Magma Masih Terus Mengalir
Foto Merapi lava pijar 17 kali
Iklan

LambeTurahBali - Selama 24 jam penuh, Minggu (13/9/2026), Gunung Merapi tidak berhenti "batuk" lewat guguran lava pijar. BPPTKG mencatat tujuh belas kali luncuran lava ke arah Barat Daya, melintasi alur Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur terjauh mencapai 2.000 meter dari puncak.

Status gunung ini masih bertahan di Level III Siaga, level yang sama seperti periode-periode sebelumnya. Tapi jangan salah, status yang tidak berubah bukan berarti aktivitasnya melandai.

Suplai Magma Masih Terus Mengalir

Penyusun laporan pemantauan BPPTKG, Suratno dan Yulianto, menegaskan bahwa data pemantauan memastikan suplai magma di dalam perut gunung masih terus berlangsung. "Potensi bahaya dari guguran lava ini sangat tinggi. Data pemantauan memastikan suplai magma di dalam perut gunung masih terus berlangsung," tulis Yulianto dalam laporannya.

Ini insight penting yang perlu dipahami: selama suplai magma masih aktif mengalir, potensi awan panas guguran bisa muncul kapan saja di daerah bahaya, bukan cuma dari luncuran lava yang sudah terpantau, tapi juga dari akumulasi material baru yang terus terbentuk di kubah lava.

Ratusan Gempa dalam Sehari

Selain guguran lava, aktivitas kegempaan Merapi juga terpantau intens. Tercatat 88 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 41 milimeter, ditambah 59 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 2 hingga 43 milimeter. Ada pula satu kali gempa Tektonik Jauh berdurasi 87,11 detik.

Kalau dijumlahkan, ada lebih dari 140 kejadian kegempaan tercatat hanya dalam rentang 24 jam, angka yang menunjukkan betapa aktifnya pergerakan di dalam tubuh gunung saat ini, meski secara visual puncak masih terlihat jelas di sela-sela kabut.

Zona yang Paling Perlu Diwaspadai

BPPTKG memetakan sektor selatan hingga barat daya sebagai kawasan paling rawan. Sungai Boyong berpotensi bahaya hingga jarak 5 kilometer, sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng rawan dilintasi awan panas hingga 7 kilometer. Di sektor tenggara, ancaman mengintai Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.

Jika erupsi eksplosif benar-benar terjadi, material vulkanik diperkirakan sanggup menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Yang perlu jadi perhatian khusus, ancaman lahar dingin dan awan panas guguran meningkat drastis begitu hujan turun di seputar puncak Merapi, kombinasi cuaca dan aktivitas vulkanik yang bisa memperbesar risiko dalam waktu singkat.

Masyarakat di sekitar kawasan rawan diimbau tetap waspada, sekaligus mengantisipasi potensi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik yang bisa terbawa angin ke permukiman terdekat.

Berita Terkait

Iklan