Sarwendah Tunjukkan Hasil Tes Kesehatan Non-Reaktif di Tengah Sengketa Hak Asuh
LambeTurahBali - Polemik soal tes kesehatan dalam pertemuan anak Sarwendah dan Ruben Onsu akhirnya mendapat jawaban langsung dari sumbernya. Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, menunjukkan lembar hasil laboratorium dengan nilai rujukan non-reaktif di depan awak media, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Ceritanya bermula dari kekhawatiran yang wajar dimiliki orang tua mana pun setelah bercerai. Chris menjelaskan, setelah Sarwendah dan Ruben berpisah, kliennya tidak lagi punya akses langsung ke kondisi kesehatan mantan suaminya, termasuk soal rutin tidaknya pengobatan yang dijalani.
"Karena sudah bercerai, klien kami kan tidak tahu lagi situasinya apakah dia minum obatnya seperti apa, lancar atau tidak. Kan sebenarnya itu sederhana aja," ujar Chris.
Yang menarik, permintaan tes ini ternyata bukan inisiatif sepihak. Chris mengungkap, kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, sebelumnya juga meminta agar Sarwendah menjalani pemeriksaan serupa. Jadi ketika hasil tes Sarwendah akhirnya dibuka ke publik, itu jadi semacam "apple-to-apple" dengan apa yang sudah diperiksa dari pihak Ruben.
Chris sengaja tidak membeberkan jenis penyakit yang dimaksud. Dia hanya menegaskan hasil tes kliennya keluar langsung dengan nilai rujukan non-reaktif, berbeda dari dokumen sebelumnya yang disebut hanya berupa lampiran tanpa hasil utuh.
Soal kenapa kondisi kesehatan ini tidak pernah dicantumkan dalam akta perjanjian sebelumnya, jawabannya justru menyingkap sisi lain dari cerita ini. Menurut Chris, Sarwendah sejak awal memilih menjaga kerahasiaan informasi tersebut, bukan karena menyembunyikan sesuatu, tapi karena khawatir semua pihak jadi tahu jika dicantumkan di hadapan notaris.
"Itu dijaga sama Bu Wenda. Klien kami menjaga supaya kalau sewaktu-waktu ada masalah dengan surat itu, tetap terjaga rapat, tidak ada yang tahu," beber Chris.
Di titik inilah letak ironinya. Niat menjaga privasi itu justru berbalik jadi bahan tuduhan bahwa Sarwendah tidak transparan sejak awal. Chris menyebut kliennya tidak berniat menjadikan hasil tes ini sebagai amunisi untuk memberatkan pihak lain dalam gugatan hak asuh anak, melainkan murni didasari kekhawatiran seorang ibu terhadap kesehatan anaknya sendiri.
Pembuktian lebih detail soal kondisi kesehatan yang dimaksud, kata Chris, akan diserahkan ke ranah persidangan, lengkap dengan penjelasan dari pihak medis. Babak berikutnya dari sengketa hak asuh ini tampaknya masih akan menyimpan beberapa kejutan lagi.