Sejarah Letusan Krakatau 1883, Suara Terkeras dalam Sejarah Bumi
Untuk memahami betapa besar kekuatan yang dilepaskan Krakatau saat itu, para ilmuwan menghitung dan menemukan angka yang sulit dibayangkan akal sehat: setara dengan 100 megaton bom nuklir, atau sekitar 13.000 kali lipat kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Ini bukan sekadar perbandingan dramatis untuk menarik perhatian, melainkan cara paling konkret bagi ilmuwan modern untuk menjelaskan skala energi yang dilepaskan dalam hitungan jam saja.
Di balik kehancuran yang ditimbulkannya, letusan ini juga menciptakan fenomena langit yang begitu aneh sekaligus memukau. Menurut situs resmi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), sebagian partikel abu vulkanik Krakatau memiliki ukuran sekitar 1 mikron, atau satu per sejuta meter. Ukuran sekecil ini ternyata sangat tepat untuk menghamburkan cahaya berwarna merah, sementara tetap memberi celah bagi warna-warna lain untuk menembus atmosfer. Hasilnya, cahaya Bulan yang biasanya berwarna putih berubah menjadi biru, bahkan terkadang tampak kehijauan.

Fenomena Bulan biru ini bukan sekadar kejadian semalam. Ia bertahan selama bertahun-tahun pascaerupsi, menjadi pemandangan langka yang disaksikan jutaan orang di berbagai belahan dunia. Tidak hanya Bulan, Matahari pun ikut terpengaruh, tampak berwarna keunguan menyerupai bunga lavender selama periode yang sama.
Dari sisi korban jiwa, sejumlah catatan sejarah menyebut jumlahnya mencapai sekitar 120 ribu orang. Yang membuat bulu kuduk merinding, kerangka-kerangka manusia korban letusan ditemukan mengambang di Samudra Hindia hingga terdampar di pantai timur Afrika, bahkan sampai satu tahun penuh setelah letusan terjadi, sebuah bukti nyata betapa dahsyatnya gelombang yang tercipta dari ledakan tersebut.
Tag Terkait