Langsung ke konten
Bali Bali
News

Sejarah Letusan Krakatau 1883, Suara Terkeras dalam Sejarah Bumi

Giostanovlatto
Sejarah Letusan Krakatau 1883, Suara Terkeras dalam Sejarah Bumi

Dikutip dari situs sains LiveScience, letusan ini memicu munculnya dinding air setinggi 120 kaki atau sekitar 36,5 meter, akibat runtuhnya tubuh Krakatau dan naiknya dasar laut secara mendadak. Warga di wilayah pesisir saat itu menggambarkan bagaimana suara gelegar terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin dekat dan semakin kuat, sebelum akhirnya laut benar-benar "menggila" menghantam daratan.

Skala material yang dilontarkan ke atmosfer pun tidak kalah mengejutkan. Ledakan ini melemparkan sekitar 45 kilometer kubik material vulkanik ke udara, cukup untuk menggelapkan langit di wilayah dengan radius 442 kilometer dari pusat letusan. Barograf di berbagai penjuru dunia bahkan mencatat tujuh kali gelombang kejut yang menjalar mengelilingi Bumi, bukti bahwa dampak fisik letusan ini benar-benar bersifat global, bukan sekadar bencana lokal di satu titik.

Infografis Sejarah Letusan Gunung Krakatau 1883

Dampaknya terhadap iklim global pun terasa nyata dan bertahan lama. Dalam 13 hari setelah letusan, lapisan sulfur dioksida dan berbagai gas vulkanik lainnya mulai menyaring jumlah sinar matahari yang bisa mencapai permukaan Bumi. Efek atmosfer ini menciptakan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler di seluruh Eropa dan Amerika Serikat, fenomena yang bahkan diabadikan dalam berbagai lukisan pada masa itu. Lebih jauh lagi, suhu rata-rata global tercatat turun sekitar 1,2 derajat Celsius selama lima tahun berikutnya, sebuah bukti bahwa satu letusan gunung berapi mampu mengubah iklim seluruh planet untuk sementara waktu.

Setelah letusan dahsyat itu, tubuh Krakatau yang asli hancur total, meninggalkan kaldera besar di Selat Sunda. Butuh waktu sekitar 40 tahun sebelum kehidupan vulkanik kembali muncul dari reruntuhan tersebut. Pada 1927, sebuah gunung baru mulai terbentuk dari aktivitas bawah laut, yang kemudian dikenal dunia sebagai Anak Krakatau. Sejak kemunculannya, gunung ini terus meletus secara sporadis dan perlahan tapi pasti terus bertumbuh, mendekati ukuran sang induk yang dulu pernah hancur berkeping-keping dalam salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Berita Terkait