Langsung ke konten
Bali Bali
Lifestyle

1 dari 4 Bos Perusahaan Ogah Rekrut Fresh Graduate, Bukan Karena Bodoh, Tapi Soal Ini

Giostanovlatto
1 dari 4 Bos Perusahaan Ogah Rekrut Fresh Graduate, Bukan Karena Bodoh, Tapi Soal Ini

LambeTurahBali - Kalau kamu Gen Z yang baru lulus dan merasa lamaran kerja sering mental tanpa alasan jelas, ternyata bukan cuma perasaanmu saja. Survei terbaru General Assembly mengungkap fakta yang cukup mengejutkan, lebih dari seperempat eksekutif perusahaan mengaku tidak akan merekrut fresh graduate saat ini.

Yang menarik, alasannya bukan soal kemampuan teknis atau nilai akademis. Justru yang jadi masalah adalah sesuatu yang lebih halus dan sulit diukur di atas kertas, soft skills.

Keterampilan yang dimaksud mencakup komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, hingga kemampuan menyelesaikan konflik. Semua hal ini biasanya tidak diajarkan lewat buku, melainkan diasah lewat pengalaman langsung berinteraksi dengan orang lain.

"Minimnya soft skills membuat sejumlah perusahaan mengurangi perekrutan lulusan baru, yang berdampak pada pasar tenaga kerja AS secara luas," tulis laporan tersebut, dilansir Forbes.

Dampaknya pun tidak main-main. Laporan Strada Institute for the Future of Work dan Burning Glass Institute mencatat lebih dari separuh lulusan S1 di AS mengalami underemployment, alias bekerja di bawah kualifikasi mereka, setahun setelah lulus kuliah.

Bukan cuma fresh graduate yang kena getahnya. Beban ini ikut menular ke para manajer, apalagi setelah banyak perusahaan memangkas jajaran manajemen menengah lewat gelombang PHK. Riset Intelligent.com bahkan mencatat 1 dari 5 manajer pernah mempertimbangkan resign karena stres mengelola pekerja Gen Z, dengan 75% manajer mengaku karyawan Gen Z butuh lebih banyak waktu dan sumber daya dibanding generasi sebelumnya.

Lalu, dari mana sebenarnya akar masalah ini bermula? Jawabannya ternyata mengarah ke satu momen besar yang mengubah cara Gen Z tumbuh, pandemi.

Laporan Gartner menunjukkan 46% pekerja Gen Z mengaku pandemi membuat pencapaian tujuan pendidikan atau karier mereka jadi lebih sulit. Selama masa itu, sebagian besar dari mereka menempuh pendidikan secara daring, yang berarti kehilangan kesempatan emas untuk mengasah keterampilan sosial seperti bernegosiasi, membangun jejaring, berbicara di depan umum, sampai beradaptasi dengan jam kerja panjang di kantor.

Meski hard skills seperti kemampuan teknis tetap krusial, tanpa soft skills yang memadai, pekerja bisa kesulitan berkoordinasi lintas tim atau berkomunikasi efektif dengan atasan saat merencanakan proyek.

Tapi menutup pintu bagi talenta muda bukan solusi jangka panjang yang sehat untuk bisnis. Gen Z tetap dikenal melek teknologi, adaptif, inovatif, dan membawa perspektif segar yang sulit didapat dari generasi sebelumnya.

Karena itu, sejumlah perusahaan mulai mengambil langkah berbeda. Survei ResumeBuilder mencatat 45% perusahaan kini menawarkan kelas soft skills khusus untuk karyawan Gen Z, dan dua pertiga di antaranya mengaku program tersebut sukses besar.

Solusi jangka panjangnya bahkan disarankan dimulai lebih awal, sebelum mahasiswa lulus kuliah. Beberapa kampus di AS, seperti Belmont University di Nashville, sudah menginisiasi program semacam Business Power Skills Conference untuk mengajarkan komunikasi dan kepemimpinan sejak di bangku kuliah.

Forbes menegaskan satu hal penting di akhir laporan ini, perusahaan tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Gen Z atas kurangnya soft skills mereka. Tanggung jawab justru ada di tangan generasi sebelumnya, untuk membekali mereka lewat pelatihan kerja, mentoring, dan proses onboarding yang benar-benar berfokus pada penguatan kemampuan interpersonal.

Berita Terkait