Langsung ke konten
Bali Bali
Lifestyle

Tren Ponsel Premium Melesat Global, Bali Ikut Terseret Gengsi iPhone

Giostanovlatto
Tren Ponsel Premium Melesat Global, Bali Ikut Terseret Gengsi iPhone

LambeTurahBali - Kalau kamu perhatikan tongkrongan anak muda Bali belakangan ini, ada satu benda yang hampir selalu ada di tangan mereka, meski harus dicicil bertahun-tahun untuk memilikinya.

Data terbaru Counterpoint Research mengungkap fenomena global yang ternyata juga terasa nyata di Bali. Penjualan ponsel pintar kelas atas dengan harga rata-rata US$600 atau sekitar Rp10 jutaan ke atas melesat 5 persen secara tahunan pada paruh pertama 2026.

Yang bikin angka ini makin menarik, kontribusi segmen premium terhadap total pengiriman smartphone global mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, 29 persen pada H1 2026. Bandingkan dengan H1 2022 yang cuma 20 persen, artinya dalam waktu empat tahun saja, hampir sepertiga ponsel yang terjual secara global sudah masuk kategori premium.

Fenomena ini sebenarnya bukan cuma soal teknologi. Di Bali sendiri, tren memiliki iPhone atau ponsel flagship lain kerap jadi simbol status yang cukup kuat, terutama di kalangan anak muda. Tidak jarang, demi bisa memegang iPhone seri terbaru, banyak yang rela mencicil selama berbulan-bulan, bahkan sampai lebih dari setahun, meski penghasilan bulanan sebenarnya jauh dari cukup untuk membeli tunai.

Senior Analyst Counterpoint Research Harshit Rastogi punya penjelasan menarik soal kenapa tren ini bisa terjadi secara global.

"Ketika harga smartphone Android di segmen menengah naik, selisih harga dengan perangkat premium, terutama model flagship versi lama atau yang sedang didiskon, semakin menyempit," ujar Rastogi, dikutip Jumat (28/8/2026).

tren ponsel premium gengsi iPhone Bali

Penjelasan ini sebenarnya cukup relevan dengan pola belanja masyarakat Bali. Ketika HP kelas menengah harganya sudah mendekati HP flagship bekas atau versi lama, banyak orang akhirnya berpikir, "kalau selisihnya cuma sedikit, mending sekalian beli yang branded." Padahal, cicilan bulanan yang harus ditanggung sering kali jauh lebih berat dari yang dibayangkan di awal.

Dari sisi persaingan merek, Apple masih memegang kendali penuh pasar premium global, tumbuh 9 persen secara tahunan berkat kuatnya permintaan lini iPhone 17. Meski begitu, dominasinya sedikit terkoreksi jadi 65 persen pada H1 2026, turun dari 74 persen di H1 2022, seiring makin ketatnya persaingan di China.

Di posisi kedua, Samsung mencatat pertumbuhan 3 persen secara tahunan dengan pangsa pasar 19 persen, ditopang fitur Privacy Display yang jadi terobosan pertama di industri.

Yang justru mencuri perhatian adalah performa merek asal China, Oppo, yang tumbuh 69 persen secara tahunan berkat kesuksesan seri Find X9. Vivo pun tak kalah moncer, tumbuh 20 persen berkat penjualan seri X300.

Senior Analyst Counterpoint Research Karn Chauhan memproyeksikan tren premiumisasi ini akan terus jadi strategi utama industri ponsel pintar ke depan, dengan fokus bergeser dari sekadar mengejar volume penjualan menuju nilai tambah dan margin keuntungan.

"Apple dan Samsung diperkirakan akan tetap mempertahankan kepemimpinan di segmen premium, ditopang oleh fondasi yang kuat di pasar negara maju, ekosistem yang terintegrasi, serta kekuatan merek," pungkas Chauhan.

Fenomena global ini pada akhirnya menemukan gaungnya sendiri di Bali, di mana gengsi memiliki ponsel flagship kadang jauh lebih kuat dari pertimbangan rasional soal kemampuan finansial. Pertanyaannya kini, sampai kapan tren "cicil demi gengsi" ini akan terus berlanjut, sementara harga ponsel premium sendiri terus merangkak naik setiap tahunnya.

Berita Terkait