Langsung ke konten
Bali Bali
News

Antrean Pertalite Mengular di SPBU Bali, Warga Terpaksa Beli Pertamax

Giostanovlatto
Antrean Pertalite Mengular di SPBU Bali, Warga Terpaksa Beli Pertamax

LambeTurahBali - Pengendara di Denpasar sudah hafal skenarionya. Datang ke SPBU, antrean sudah mengular sampai ke jalan raya, dan begitu sampai depan, jawabannya sama, Pertalite habis. Ini bukan kejadian di satu titik, tapi sudah jadi pemandangan rutin di berbagai sudut kota.

Antrean panjang kendaraan mengular di sejumlah SPBU Bali sepanjang pekan ini, dipicu kelangkaan Pertalite yang menyebar hampir merata di berbagai titik distribusi. Fenomena ini bukan cuma bikin kesal, tapi juga memaksa banyak warga mengubah rencana isi bensin mereka secara mendadak.

Salah satu titik yang mencolok terjadi di SPBU Jalan Pulau Komodo, Denpasar, tempat Made Sandi harus rela membeli Pertamax karena Pertalite yang biasa ia gunakan sudah kosong sama sekali.

"Di sini Pertalite lagi habis, jadinya terpaksa beli Pertamax. Tadi cek di SPBU lain juga habis Pertalite. Saya tanya pegawai SPBU-nya juga katanya Pertalite masih diantar," ujar Made Sandi, Kamis (27/8/2026).

antrean Pertalite mengular SPBU Bali

Yang bikin situasi ini terasa lebih meresahkan, Made bukan cuma gagal di satu SPBU. Ia sudah mengecek lokasi lain, hasilnya sama saja, kosong. Artinya, kelangkaan ini bukan masalah satu pompa bensin yang kebetulan telat pasokan, tapi gejala yang menyebar lintas lokasi dalam waktu bersamaan.

Kondisi serupa juga terpantau di SPBU Jalan Imam Bonjol, Denpasar, di mana antrean kendaraan bahkan mengular sampai keluar area SPBU, memenuhi ruas jalan di sebelahnya. Bagi warga yang biasa mengisi bensin dalam hitungan menit, kini harus rela menghabiskan waktu jauh lebih lama hanya untuk memastikan tangki motor atau mobilnya terisi.

Pertamina Patra Niaga akhirnya buka suara soal akar masalah di balik antrean ini. Area Manager Comm, Rel. & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa lonjakan antrean terjadi seiring penyesuaian stok di dua titik suplai utama Bali, Integrated Terminal Manggis dan Fuel Terminal Sanggaran.

"Kami memahami ketidaknyamanan masyarakat akibat antrean yang terjadi di sejumlah SPBU. Pertamina telah melakukan langkah mitigasi dengan meningkatkan penyaluran Pertalite serta memperkuat pasokan dari terminal BBM," ujarnya, Jumat (28/8/2026).

Di sinilah letak persoalan yang perlu dicermati publik. Kalau penyesuaian stok di dua terminal utama saja sudah cukup untuk membuat antrean mengular di berbagai SPBU sekaligus, itu menunjukkan betapa tipisnya buffer stok BBM Bali selama ini, tanpa ruang toleransi yang cukup ketika terjadi gangguan sekecil apa pun di rantai distribusi.

Sebagai respons, Pertamina meningkatkan penyaluran Pertalite menjadi 2.300 kiloliter pada Kamis (27/8), naik 700 kiloliter dibanding hari sebelumnya yang hanya 1.600 kiloliter lewat IT Manggis dan FT Sanggaran.

Langkah tambahan juga disiapkan lewat percepatan pasokan berikutnya, masing-masing 22.000 kiloliter untuk IT Manggis dan 2.200 kiloliter untuk FT Sanggaran, dijadwalkan tiba Jumat (28/8/2026).

"Kami terus memantau kondisi stok dan penyaluran secara intensif serta mengoptimalkan koordinasi antara terminal, mobil tangki, dan SPBU. Kami memastikan langkah percepatan ini terus dilakukan hingga pelayanan di SPBU kembali normal," tambah Ahad.

antrean Pertalite mengular SPBU Bali

Namun janji "sampai kembali normal" ini masih menyisakan pertanyaan besar bagi warga yang setiap hari harus berjibaku dengan antrean panjang. Tidak ada kepastian jelas berapa hari lagi kondisi ini akan benar-benar pulih, sementara aktivitas warga yang bergantung pada kendaraan bermotor terus berjalan tanpa jeda.

Pertamina turut menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat, sekaligus mengimbau warga membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan agar stok bisa terdistribusi lebih merata.

Imbauan ini sebenarnya menyimpan ironi tersendiri. Di satu sisi, warga diminta menahan diri agar tidak memperparah kelangkaan, di sisi lain, banyak dari mereka justru terpaksa antre lebih lama atau beralih ke Pertamax yang lebih mahal, bukan karena ingin menimbun, tapi semata-mata karena kebutuhan harian yang tidak bisa ditunda.

Sampai kapan antrean mengular ini benar-benar berakhir, warga Bali masih harus menunggu, sambil berharap pasokan tambahan yang dijanjikan Pertamina benar-benar cukup untuk mengembalikan situasi ke kondisi normal, bukan sekadar solusi sementara yang berulang setiap kali terjadi gangguan distribusi berikutnya.

Berita Terkait