Video Viral Pekerja Tanam Sawit di Lahan Bekas Karhutla Kalimantan
LambeTurahBali - Video itu berdurasi tidak sampai semenit. Tapi cukup untuk bikin warganet berhenti scroll dan berkata, "nah, ini dia buktinya."
Sebuah video viral kini beredar luas di media sosial, memperlihatkan sejumlah pekerja membawa bibit dan menanam sawit di lahan yang masih terlihat gosong bekas terbakar. Tanah yang direkam masih hitam, sisa kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan sepanjang tahun ini.
Video ini diangkat dan dibagikan ulang oleh akun Lambe Turah, langsung memicu gelombang komentar tajam dari warganet yang selama ini curiga soal pola "kemarau, bakar, tanam" di balik karhutla.
Yang bikin video ini terasa berbeda dari sekadar rekaman kebakaran biasa, jarak waktu antara api padam dan bibit sawit muncul terlihat begitu singkat. Tanah bahkan belum sepenuhnya dingin, tapi aktivitas penanaman sudah berlangsung di atasnya.
Kecurigaan warganet ini ternyata bukan tanpa dasar. Bareskrim Polri menetapkan 72 tersangka perorangan dari 89 laporan polisi di sembilan Polda terkait kasus karhutla, dengan sebagian besar berprofesi sebagai petani ladang dan pekerja serabutan.
Motif di baliknya cukup sederhana secara logika "bisnis". Musim panas membuat lahan mudah terbakar, biaya pembukaan lahan pun turun drastis. Begitu hujan datang, lahan yang sudah bersih dari vegetasi langsung siap ditanami sawit. Urutannya rapi, kemarau, bakar, bersihkan, hujan, tanam.
Video viral yang beredar ini seolah jadi bukti visual dari pola tersebut. Sawit memang bukan jamur yang tumbuh sendiri kena hujan, harus ada yang membawa bibitnya, ada yang menanam, dan ada yang sudah menyiapkan lahan terlebih dulu sebelum api benar-benar padam.
Lihat postingan di Instagram
Polisi kini menelusuri lebih jauh, siapa yang memberi perintah, membiayai, sekaligus menikmati keuntungan dari pembakaran ini. Kalau penyelidikan berhenti di pelaku lapangan seperti yang terekam dalam video viral tersebut, cerita ini cuma akan berakhir di ujung korek api tanpa pernah menyentuh aktor sesungguhnya.
Skala kebakaran di Kalimantan Barat sendiri tidak kecil. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, luas lahan terbakar mencapai 38.310,86 hektare. Ketapang menyumbang 12.443 hektare, disusul Kubu Raya 8.614 hektare, dan Mempawah 6.144 hektare.
WALHI mencatat, periode 1 Januari hingga 27 Juli 2026 saja sudah ada 17.236 hotspot di Kalbar, dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektare. Yang lebih mengejutkan, sekitar 74 persen hotspot di Pulau Kalimantan berada di kawasan konsesi, termasuk 10.739 hotspot di antaranya berlokasi di konsesi perkebunan sawit, meski WALHI sendiri menegaskan data ini tidak otomatis berarti seluruh hotspot disebabkan aktivitas sawit.
Temuan di lapangan pun makin menguatkan dugaan yang tergambar dalam video viral tersebut. Di Ketapang, penyidik menemukan bibit sawit dan bangunan di dalam kawasan hutan. Bahkan di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Riau, tiga orang ditetapkan tersangka karena membuka lahan dengan cara dibakar untuk sawit.
Situasi ini mendorong Presiden Prabowo Subianto turun langsung, mendarat di Lanud Supadio pada 22 Agustus, memimpin rapat sekaligus meninjau Desa Limbung, Kubu Raya. Dua hari berselang, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyusul ke Rasau Jaya, sementara Kementerian Kehutanan mengerahkan 5.000 ASN untuk penanganan di lapangan.
Kolom komentar di bawah video viral itu pun dipenuhi sindiran tajam warganet.
"Bang, mestinya habis karhutla itu, muncul restorasi gambut, reboisasi hutan," tulis salah satu warganet.
"Mestinya begitu, wak. Semua sandiwara, kasihan kita yang tiap hari nyedot asap," balas warganet lain.
"Udah dibilang, sengaja bakar hutan memang untuk menanam sawit, pendukungnya malah gak terima," sindir komentar lainnya.
Video singkat itu kini jadi bukti visual yang sulit dibantah, bahwa di balik asap tebal yang selama ini dihirup jutaan warga Kalimantan, ada tangan-tangan yang sudah lebih dulu menunggu tanah berubah dari hijau jadi hitam, sebelum akhirnya berubah hijau lagi, kali ini dengan sawit.
Tag Terkait