Kenapa Menguap Bisa Menular? Ini Dua Hipotesis Ilmiahnya
LambeTurahBali - Kalau kamu baru saja menguap gara-gara baca kata "menguap" berkali-kali di paragraf ini, selamat, kamu baru saja mengalami fenomena yang bikin ilmuwan penasaran bertahun-tahun.
Menguap menular, atau dalam istilah ilmiah disebut contagious yawning, adalah fenomena ketika seseorang ikut menguap setelah melihat, mendengar, bahkan sekadar membayangkan orang lain menguap. Menurut Psychology Today, fenomena ini dialami sekitar 40 hingga 60 persen orang begitu terpapar pemicunya.
Yang bikin fenomena ini makin menarik, menguap menular ternyata bukan monopoli manusia. Anjing, monyet, babun, hingga burung beo juga tercatat mengalami hal serupa.
Sayangnya, sampai sekarang penyebab pasti kenapa menguap bisa menular masih belum terpecahkan sepenuhnya. Ada dua hipotesis utama yang paling sering dibahas para ahli, dan keduanya sama-sama menarik.
Hipotesis pertama menyebut menguap menular sebagai bentuk peniruan bawah sadar, atau dikenal juga sebagai chameleon effect. Ini adalah kondisi ketika seseorang secara otomatis meniru tindakan orang lain tanpa sadar sama sekali sedang melakukannya.
Menariknya, perilaku meniru tanpa sadar ini justru dikaitkan dengan hubungan sosial yang lebih kuat. Penelitian pada burung beo bahkan menemukan bahwa perilaku menguap dan meregangkan tubuh bisa terjadi bersamaan, seolah tubuh secara refleks menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Hipotesis kedua justru mengaitkan menguap menular dengan empati, kemampuan memahami dan berbagi perasaan orang lain.
Fakta yang cukup menggemaskan datang dari dunia hewan peliharaan. Sebuah penelitian menemukan anjing lebih sering ikut menguap saat melihat pemiliknya menguap, dibanding saat melihat orang asing melakukan hal yang sama. Artinya, kedekatan emosional ternyata memengaruhi seberapa "menular" sebuah menguap.
Pada manusia dan primata, fenomena ini mulai muncul sekitar usia 4 tahun, bertepatan dengan berkembangnya theory of mind, kemampuan memahami bahwa orang lain punya pikiran dan perasaan berbeda dari diri sendiri. Usia ini jadi petunjuk penting, karena menunjukkan menguap menular berkembang seiring kematangan sosial-emosional seseorang, bukan sekadar refleks fisik semata.
Ada juga penjelasan lain yang melibatkan sistem mirror neuron, atau neuron cermin, sel-sel otak yang aktif baik saat seseorang melakukan suatu tindakan maupun saat mengamati orang lain melakukan tindakan yang sama.
Begitu melihat orang lain menguap, bagian otak yang mengatur pemrosesan emosi dan kesadaran sosial ikut aktif, seolah otak sedang "mencoba" merasakan apa yang dirasakan orang di depan kita.
Meski begitu, hubungan antara menguap menular dan empati belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah. Beberapa penelitian justru tidak menemukan kaitan yang cukup kuat antara keduanya, membuat para ilmuwan masih terus mencari jawaban pasti di balik fenomena sederhana yang ternyata jauh lebih kompleks dari yang dikira ini.
Catatan: artikel ini bersifat informatif seputar fenomena fisiologis umum. Bagi pembaca yang mengalami rasa kantuk berlebihan atau gangguan tidur yang mengganggu aktivitas sehari-hari, disarankan berkonsultasi dengan dokter.
Tag Terkait