5 Provinsi dengan Kasus Perceraian Paling Sedikit di Indonesia 2025, Bali Termasuk?
LambeTurahBali - Kalau kamu lagi cari pasangan yang setia sampai tua, ternyata data BPS punya jawabannya, dan provinsi ini jauh dari yang biasa disebut orang.
Badan Pusat Statistik mencatat sepanjang tahun 2025, angka perceraian di Indonesia mencapai 438.168 kasus. Jumlah yang cukup besar, tapi menariknya, sebarannya sangat timpang antar provinsi.
Jawa Barat jadi provinsi dengan angka perceraian tertinggi di Indonesia. Alasan paling umum yang diajukan bukan soal ekonomi atau perselingkuhan, melainkan pertengkaran terus-menerus, dengan 282.000 kasus tercatat karena alasan ini saja.
Satu fakta yang jarang dibahas dari data perceraian nasional, 80 persen gugatan cerai justru diajukan oleh pihak perempuan. Angka ini menunjukkan pergeseran yang cukup signifikan dari pola lama, di mana perempuan kini lebih berani mengambil keputusan mengakhiri pernikahan yang dirasa tidak lagi sehat.
Tapi di ujung spektrum yang berbeda, ada provinsi-provinsi dengan angka perceraian paling rendah se-Indonesia. Berikut daftarnya.
Di posisi kelima ada Papua, dengan 1.137 kasus perceraian sepanjang 2025. Disusul Bali di posisi keempat dengan 1.110 kasus, angka yang cukup mengejutkan mengingat status Bali sebagai destinasi wisata internasional dengan pergaulan yang jauh lebih terbuka dibanding daerah lain.
Maluku menempati posisi ketiga dengan 760 kasus, sementara Papua Barat naik ke posisi kedua dengan hanya 592 kasus perceraian sepanjang tahun.
Dan provinsi dengan angka perceraian paling rendah se-Indonesia jatuh pada Nusa Tenggara Timur, dengan hanya 494 kasus sepanjang 2025.
Kalau dibandingkan dengan Jawa Barat yang mencatat ratusan ribu kasus, angka NTT ini terasa jauh sekali. Artinya, pola pernikahan di NTT punya ketahanan yang jauh lebih kuat dibanding provinsi-provinsi besar lain di Indonesia, meski faktor di baliknya bisa beragam, mulai dari struktur adat, tekanan sosial terhadap perceraian, hingga budaya kekeluargaan yang lebih kuat mengikat pasangan menikah.
Data ini juga jadi pengingat menarik, angka perceraian rendah di suatu daerah tidak selalu berarti pernikahan di sana lebih bahagia. Bisa jadi, ada faktor sosial atau budaya yang membuat pasangan bertahan meski hubungan sebenarnya tidak lagi ideal, sesuatu yang perlu dilihat lebih dalam ketimbang sekadar dirayakan sebagai prestasi.
Yang jelas, kalau bicara soal ketahanan pernikahan berdasarkan data statistik murni, NTT untuk sementara masih memegang rekor sebagai provinsi paling "awet" se-Indonesia sepanjang 2025.
Tag Terkait