Langsung ke konten
Bali Bali
News

Gelar Caru Eka Sata, Cara Warga Bali Sucikan Pekarangan usai Aksi Mesum WNA Australia

Giostanovlatto
Gelar Caru Eka Sata, Cara Warga Bali Sucikan Pekarangan usai Aksi Mesum WNA Australia

LambeturahBali - Bagi warga Bali, pekarangan rumah bukan sekadar halaman biasa. Ada makna spiritual yang melekat di dalamnya, dan itulah yang membuat pemilik rumah di Tibubeneng ini mengambil langkah tak biasa.

Pemilik rumah yang pekarangannya sempat dijadikan lokasi aksi mesum sepasang WNA menggelar Upacara Caru Eka Sata, Rabu (26/8/2026), sebagai bentuk pembersihan spiritual atas kejadian yang sempat viral tersebut.

"Pemilik rumah melaksanakan upacara Caru Eka Sata sebagai upaya pembersihan pekarangan secara niskala di lokasi aksi mesum sepasang WNA," tulis akun Instagram @bali.daring.

Yang bikin respons ini terasa berbeda dari sekadar kemarahan biasa, pemilik rumah tidak hanya melapor ke polisi. Ia memilih menempuh jalur spiritual untuk memulihkan energi rumahnya, sebuah langkah yang mungkin terdengar asing bagi banyak orang di luar Bali, tapi sangat bermakna bagi warga lokal.

Caru Eka Sata sucikan pekarangan WNA

Aksi asusila itu sendiri terjadi di sebuah gang depan rumah warga di Jalan Pantai Berawa, Gang Family, Tibubeneng, Badung. Pelaku laki-laki berinisial BA (27) mengaku sebelumnya bertemu seorang perempuan di beach club terdekat, dan keduanya keluar dalam kondisi mabuk sebelum melakukan perbuatan tidak senonoh tepat di pekarangan rumah warga tersebut.

Video kejadian ini menyebar luas di media sosial, memicu kemarahan publik sekaligus perhatian serius dari aparat kepolisian.

Upacara Caru Eka Sata sendiri bukan ritual sembarangan. Ini merupakan upacara suci umat Hindu tingkat menengah yang bertujuan membersihkan pekarangan secara niskala, atau spiritual, dari energi negatif dan pengaruh buruk secara gaib.

Ritualnya menggunakan media seekor ayam berbulu brumbun, dilengkapi berbagai jenis sesajen atau banten penunjang tingkat menengah. Bagi masyarakat Bali, jenis upacara seperti ini biasanya dilakukan setelah terjadi peristiwa yang dianggap mencemari kesucian sebuah tempat, mulai dari kematian tidak wajar hingga tindakan asusila seperti kasus ini.

Kejadian ini memberi gambaran menarik soal bagaimana masyarakat Bali menyikapi pelanggaran terhadap ruang privat mereka, bukan hanya lewat jalur hukum, tapi juga lewat pemulihan makna spiritual yang melekat pada tempat tinggal mereka.

Sementara proses spiritual berjalan di rumah korban, proses hukum terhadap pelaku juga terus bergulir. Satuan Reserse Kriminal Polres Badung berhasil mengamankan BA, warga negara Australia yang diduga menjadi pemeran laki-laki dalam video tersebut.

Kini, dua proses berjalan beriringan, hukum di kepolisian dan pemulihan spiritual di rumah korban, sebagai respons lengkap masyarakat Bali menghadapi pelanggaran yang menodai ruang privat sekaligus nilai kesucian tempat tinggal mereka.

Berita Terkait