Langsung ke konten
Bali Bali
Entertainment

49 Musisi Tampil di Bali, Tapi Tak Dibayar AXEAN: Lalu Untuk Apa Mereka Datang?

Giostanovlatto
49 Musisi Tampil di Bali, Tapi Tak Dibayar AXEAN: Lalu Untuk Apa Mereka Datang?

LambeTurahBali - Ada sesuatu yang cukup menarik dari AXEAN Music Festival tahun ini. Sebanyak 49 musisi akan tampil di Bali, tetapi mereka tidak dibayar oleh penyelenggara karena AXEAN memang dirancang bukan sebagai festival musik komersial biasa, melainkan sebagai showcase yang mempertemukan musisi dengan pelaku industri musik dari berbagai negara.

Lalu, kalau bukan honor panggung, apa yang sebenarnya mereka kejar?

Jawabannya adalah kesempatan untuk membuka pintu yang selama ini mungkin sulit mereka tembus: industri musik internasional.

AXEAN membawa sekitar 220 delegasi ke Bali tahun ini, mulai dari label, promotor festival, booking agent hingga pelaku industri musik lainnya. Jumlah tersebut meningkat dari sekitar 170 delegasi pada penyelenggaraan sebelumnya.

49 Musisi Tampil di Bali, Tapi Tak Dibayar AXEAN: Lalu Untuk Apa Mereka Datang?

Para musisi tampil di depan orang-orang yang memang datang untuk mencari talenta baru. Harapannya, setelah melihat penampilan mereka, ada yang tertarik membawa mereka tampil di negara lain, menjalin kerja sama, atau bahkan membuka peluang bisnis baru.

“Tujuannya adalah untuk memperluas jaringan dan untuk membuat band-band kita ini bisa lebih didengar di luar ranah Southeast Asia atau bahkan Asia,” kata penyelenggara AXEAN.

Konsepnya memang berbeda. Di AXEAN, musisi besar dan musisi yang masih relatif asing mendapatkan kesempatan tampil dalam format yang sama. Penyelenggara bahkan mengatakan jumlah pendengar di platform streaming bukan ukuran utama dalam menentukan siapa yang layak tampil.

Yang dicari adalah musik yang dianggap punya potensi untuk dibawa keluar dari pasar asalnya.

Tahun ini, kamu bisa menyaksikan penyanyi campursari Ndarboy Genk, kuartet eksperimental Basajan, hingga band indie asal Yogyakarta, LOR. Ada pula Satu Per Empat, Jo Soegono, Emptyyy, dan penyanyi R&B Noni.

Dari Asia Tenggara, Malaysia diwakili MASDO dan Pitahati, Filipina membawa PLAYERTWO, sementara Singapura menghadirkan Subsonic Eye. Thailand ikut mengirimkan Yellow Fang dan INSPIRATIVE.

AXEAN juga semakin meluas dengan menghadirkan Scamper dari Makau dan Treaks dari Prancis.

Salah satu musisi Bali yang pernah tampil di AXEAN, Bagus LL dari Milledenials, mengatakan pengalaman tersebut memberinya kesempatan bertemu dengan delegasi festival dan label dari berbagai negara.

“Jadi kemungkinan untuk memperkenalkan musik kita tuh lebih luas,” katanya.

Ia juga bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan musisi dari China. Meski terkendala bahasa, mereka tetap bisa terhubung melalui musik dan bahkan menghabiskan waktu bersama hingga pagi.

Bagi AXEAN, itulah inti festival ini. Musisi mungkin tidak pulang membawa bayaran dari panggung, tetapi mereka datang untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih sulit diperoleh: kesempatan agar musik mereka didengar di luar negeri.

Tahun ini, AXEAN Festival berlangsung selama dua hari, 29-30 Agustus 2026, di Jimbaran Hub, Bali, dengan target sekitar 2.000 penonton.

Buat yang mau datang, tiket tersedia melalui Loket.com:

  • Early Bird 1 Hari: Rp75.000

  • Terusan 2 Hari: Rp150.000

Jadi, apakah ini festival musik yang tidak membayar musisinya?

Iya.

Tapi justru di situlah model AXEAN menjadi menarik. Mereka tidak menjual janji honor panggung. Mereka menawarkan akses, koneksi dan kemungkinan bahwa suatu hari nanti, musik yang dimainkan di Bali bisa terdengar jauh di luar Indonesia.

49 Musisi Tampil di Bali, Tapi Tak Dibayar AXEAN: Lalu Untuk Apa Mereka Datang?

Berita Terkait