Langsung ke konten
Bali Bali
News

Cadangan Listrik Bali Cuma 150 MW, Koster: "Kalau Kabel Itu Putus, Bali Langsung Gelap"

Giostanovlatto
Cadangan Listrik Bali Cuma 150 MW, Koster: "Kalau Kabel Itu Putus, Bali Langsung Gelap"

LambeTurahBali - Coba bayangkan skenario ini. Satu kabel di dasar laut putus, dan dalam hitungan detik, seluruh Pulau Dewata gelap gulita. Bukan cerita fiksi, ini kondisi nyata yang diakui sendiri oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

Dalam puncak peringatan HUT ke-14 IWO Indonesia dan HUT ke-1 IWO Bali di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026), Koster membongkar angka yang cukup mengkhawatirkan soal ketahanan energi Bali.

Kapasitas listrik yang tersedia saat ini sekitar 1.450 megawatt, terdiri dari 1.100 MW pembangkit di Bali dan 350 MW pasokan dari Paiton, Jawa Timur, lewat kabel bawah laut. Sementara kebutuhan listrik Bali sudah mencapai sekitar 1.300 MW.

Artinya, cadangan listrik Bali cuma tersisa 150 MW. Padahal, menurut Koster sendiri, cadangan ideal sebuah sistem kelistrikan minimal harus 30 persen dari total kebutuhan. Bali jauh di bawah angka aman itu.

Yang lebih mengkhawatirkan, sepertiga dari kapasitas total Bali bergantung penuh pada satu jalur, kabel bawah laut dari Paiton. Kalau jalur ini terganggu, dampaknya bukan sekadar defisit, tapi krisis total.

"Kalau itu sampai putus 350 megawatt, Bali langsung gelap," tegas Koster.

Ini bukan sekadar wacana. Koster sendiri menyinggung pengalaman pemadaman listrik selama sekitar 12 jam sebagai pelajaran pahit bahwa urusan listrik tidak boleh hanya dilihat dari "lampu menyala atau tidak".

"Jangan kita berpikir lampunya nyala. Dari mana nyalanya, latarnya, dan dari jenis energi apa? Itu yang jangan kita lupakan," ujarnya.

Dampaknya bukan cuma soal kenyamanan rumah tangga. Bali adalah destinasi pariwisata internasional, dan setiap pemadaman berarti hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan ikut lumpuh. "Kalau sampai mati listrik, hotel juga komplain," katanya.

Menariknya, solusi yang ditawarkan Koster bukan menambah pembangkit fosil seperti batu bara. Dalam rancangan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, Bali memang akan membangun pembangkit gas berkapasitas 200 MW mulai tahun ini, ditargetkan mencapai total 1.550 MW paling lambat 2032. Tapi gas hanya diposisikan sebagai energi transisi, bukan solusi permanen.

Fokus jangka panjangnya justru energi terbarukan, tenaga surya, gelombang laut, dan panas bumi. Bahkan potensi energi gelombang laut di Nusa Penida tengah dikaji tim ITB bersama perguruan tinggi luar negeri, dengan potensi mencapai 50 MW, jauh melebihi kebutuhan listrik Nusa Penida yang hanya sekitar 20 MW.

Perhatian terbesar Koster ada pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Bali sebelumnya memperoleh kuota pengembangan PLTS sekitar 1.000 MW, membutuhkan sekitar 1.000 hektare lahan. Kini, dengan tambahan lahan di Jembrana yang mencapai lebih dari 1.000 hektare, Koster optimistis kuota PLTS Bali bisa ditingkatkan hingga 1.500 MW.

Alasannya sederhana tapi tajam. "Kalau kita full menggunakan PLTS, itu artinya energi yang tidak bisa dikontrol oleh siapa pun, baik terkait politik maupun hal-hal yang lain," ujar Koster, menyinggung risiko geopolitik yang selama ini membayangi harga dan distribusi minyak serta batu bara.

Koster menutup dengan satu pesan yang cukup menohok untuk direnungkan warga Bali. "Bali ini tidak saja untuk hidup hari ini, tapi hidup ke depan."

Pertanyaannya sekarang, dengan cadangan listrik yang begitu tipis dan ketergantungan besar pada satu kabel bawah laut, seberapa cepat Bali bisa benar-benar lepas dari ancaman gelap total yang sewaktu-waktu bisa terjadi?

Berita Terkait