Ekonomi Bali Tumbuh 6 Persen, tapi Pengamat Ini Bilang: "Berhasil, Tapi Rapuh"
LambeTurahBali - Angka pertumbuhan ekonomi Bali sebenarnya terdengar menggembirakan. Dari 5,48 persen di 2024, naik jadi 5,82 persen di 2025, dan diproyeksi tembus 6,1 persen sepanjang 2026. Tapi dalam dialog publik "Meneropong Bali dari Sisi Berbeda" di ajang HUT IWO ke-14 dan HUT IWO Bali pertama, Minggu (30/8/2026), ada satu kalimat dari pengamat ekonomi dan pariwisata Trisno Nugroho yang bikin banyak orang berhenti sejenak.
"Bali berhasil, namun keberhasilannya masih rentan," ujarnya.
Artinya, pertumbuhan setinggi apa pun tidak otomatis berarti aman. Trisno menyoroti tiga persoalan mendasar, mulai dari konsentrasi ekonomi yang masih menumpuk di kawasan dan sektor tertentu, potensi kebocoran nilai karena belanja wisatawan belum sepenuhnya sampai ke kantong petani, nelayan, dan pelaku UMKM lokal, sampai tekanan terhadap daya dukung alam akibat pertumbuhan yang tak terkendali.
Yang menarik, jawabannya bukan meninggalkan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi Bali. "Diversifikasi di sekitar pariwisata, bukan meninggalkannya," tegasnya. Pariwisata tetap jadi pasar besar, tinggal bagaimana pasar itu menghidupkan ekosistem lokal di sekelilingnya.
Untuk itu, Trisno menawarkan lima mesin pertumbuhan baru yang saling menopang, pangan bernilai tambah, ekonomi kreatif, ekonomi digital, sektor kesehatan dan pendidikan, hingga ekonomi hijau. Kelimanya bukan sekadar wacana tambahan, melainkan portofolio ketahanan ekonomi kalau sewaktu-waktu pariwisata melambat.
Inklusivitas juga jadi sorotan penting. Menurutnya, empat pintu harus dibuka bersamaan, keterampilan, akses pasar, pembiayaan, dan teknologi. Ia mengingatkan dengan satu kalimat yang cukup tajam, "Bantuan tanpa pasar menciptakan ketergantungan. Pasar tanpa kapasitas meninggalkan usaha kecil."
Soal pemerataan, Trisno mendorong konsep "Satu Bali, banyak pusat pertumbuhan." Bali Selatan tetap jadi gerbang global dan pusat jasa bernilai tinggi, tapi Bali Barat bisa diperkuat lewat pangan dan ekonomi laut, Bali Utara lewat logistik dan pendidikan, Bali Timur lewat budaya dan desa wisata, sementara Bali Tengah diarahkan jadi kawasan berbasis pengetahuan dan wellness.
Ada juga pergeseran paradigma yang ia tawarkan, dari sekadar pariwisata berkelanjutan menuju pariwisata regeneratif. Bedanya cukup mendasar, kalau keberlanjutan cuma menjaga agar kondisi tidak makin buruk, pendekatan regeneratif justru mendorong agar aktivitas wisata meninggalkan alam, budaya, dan masyarakat lokal dalam kondisi lebih baik dari sebelumnya. Masyarakat pun didorong bukan sekadar jadi penonton, tapi pemilik, pemasok, sekaligus pengambil keputusan.
Sebagai langkah awal, Trisno menyarankan Bali mulai memetakan rantai pasok dan kebocoran nilai, menetapkan target belanja lokal, hingga membangun pusat pertumbuhan di luar Bali Selatan sebelum melangkah ke pengembangan mesin ekonomi ekspor yang lebih besar.
Pesannya jelas, Bali tidak perlu memilih antara pariwisata atau sektor lain. Yang dibutuhkan adalah pariwisata yang lebih berkualitas, mampu menghidupkan ekonomi lokal, sekaligus memastikan pembangunan hari ini tidak mengorbankan masa depan pulau ini.
Tag Terkait