Langsung ke konten
Bali Bali
News

Gubernur Koster Blak-blakan: Lebih Sering Tahu Masalah Bali dari Media Online Ketimbang Laporan Bawahannya Sendiri

Giostanovlatto
Gubernur Koster Blak-blakan: Lebih Sering Tahu Masalah Bali dari Media Online Ketimbang Laporan Bawahannya Sendiri

LambeTurahBali - Ada pengakuan menarik dari Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri HUT ke-14 Ikatan Wartawan Online (IWO) Nasional sekaligus satu tahun IWO Bali di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026). Bukan soal capaian pembangunan, tapi soal dari mana sebenarnya ia sering pertama kali tahu ada masalah di lapangan.

"Saya banyak mengetahui perkembangan yang terjadi di masyarakat justru dari media. Terutama media online karena cepat," ujar Koster.

Pengakuan ini jadi sindiran halus untuk birokrasinya sendiri. Koster bahkan blak-blakan menyebut dirinya lebih sering mengetahui persoalan yang butuh penanganan cepat dari pemberitaan media, ketimbang laporan langsung dari jajaran perangkat daerah.

"Dunia sekarang sudah berubah. Cara berkomunikasi berubah. Cara melapor kepada pimpinan juga harus berubah. Masyarakat sekarang ingin mendapatkan respons yang cepat," tegasnya.

Selain menyoroti pola birokrasi, Koster juga membuka isu yang jarang dibicarakan terbuka, ketahanan energi Bali. Ia mengingatkan bahwa Bali masih sangat bergantung pada pasokan listrik lewat kabel bawah laut dari Pulau Jawa, sebuah sistem yang menurutnya menyimpan risiko besar.

"Kalau terjadi gangguan pada kabel bawah laut, dampaknya bisa sangat besar terhadap pasokan listrik Bali. Karena itu kita harus memikirkan sumber energi yang aman untuk kebutuhan Bali ke depan," ujarnya.

Karena itu, sejak awal masa kepemimpinannya, Koster mendorong Bali menuju kemandirian energi berbasis sumber bersih, bukan dengan memutus hubungan dari sistem luar daerah, tapi memperkuat pembangkit yang berada langsung di Bali.

Soal posisi IWO Bali sendiri, Koster yang kebetulan menjabat Ketua Badan Kehormatan organisasi ini menegaskan tidak ingin IWO Bali kehilangan independensinya. "Tidak berarti IWO harus menjadi seperti perangkat daerah pemerintah provinsi. Tidak perlu begitu. Natural saja, bekerja sesuai dengan sistem yang dimiliki," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Koster juga mengajak IWO Bali ikut mengomunikasikan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun kepada masyarakat luas, mengingat masih banyak warga yang belum memahami arah pembangunan jangka panjang pulau ini secara utuh.

Berita Terkait