Langsung ke konten
Bali Bali
News

Setelah Nyaris Dua Pekan Tutup Akibat Gempa, "Surga di Atas Awan" Wae Rebo Kembali Terima Wisatawan

Giostanovlatto
Setelah Nyaris Dua Pekan Tutup Akibat Gempa, "Surga di Atas Awan" Wae Rebo Kembali Terima Wisatawan

LambeTurahBali - Kabar baik datang dari desa wisata yang selama ini dijuluki "surga di atas awan". Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, resmi kembali membuka pintunya untuk wisatawan mulai hari ini, setelah hampir dua pekan tutup akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores.

Ketua Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo, Mikael Tonso, mengonfirmasi kabar ini langsung. "Buka kembali mulai hari ini," katanya, Selasa (1/9/2026) pagi.

Penutupan yang berlangsung sejak 15 Agustus 2026 lalu bukan tanpa alasan kuat. Gempa yang mengguncang wilayah Flores saat itu memicu potensi longsor di jalur trekking menuju desa adat ini, sehingga demi keselamatan pengunjung, akses ditutup sementara.

Keputusan membuka kembali pun tidak diambil sembarangan. Pihak pengelola lebih dulu memantau kondisi pascagempa secara menyeluruh sebelum akhirnya memutuskan mencoba membuka kegiatan kunjungan wisata secara terbatas dan bertahap.

Wae Rebo kembali dibuka

"Dalam pelaksanaannya, kondisi jalur trekking, lingkungan, serta situasi alam akan terus dipantau demi keselamatan pengunjung dan masyarakat," terang Mikael.

Yang menarik, pembukaan ini sifatnya masih fleksibel dan bisa berubah kapan saja tergantung kondisi di lapangan. Mikael menegaskan pihaknya tidak akan ragu menutup kembali akses jika situasi dinilai kembali berisiko.

"Apabila kondisi di lapangan kembali dinilai tidak aman, kegiatan kunjungan dapat dihentikan atau ditutup kembali sewaktu-waktu," imbuhnya.

Bagi calon pengunjung yang berencana datang, pihak pengelola mengimbau untuk selalu mengikuti arahan petugas dan pemandu, serta mempertimbangkan matang-matang kondisi perjalanan sebelum berangkat. "Keselamatan jiwa adalah prioritas utama," tegas Mikael.

Bagi yang belum familiar, Wae Rebo terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, menawarkan pemandangan yang membuatnya layak menyandang julukan surga di atas awan. Ikon utamanya adalah tujuh rumah adat berbentuk kerucut yang dikenal dengan nama Mbaru Niang.

Selain arsitektur uniknya, Wae Rebo juga menyimpan bentang alam memukau dan budaya lokal yang masih terjaga kuat. Wisatawan yang berkunjung pun biasanya disambut hangat oleh keramahtamahan warga setempat, sesuatu yang selama ini jadi daya tarik tersendiri di luar keindahan alamnya.

Berita Terkait