Langsung ke konten
Bali Bali
News

Gempa Susulan M5,2 Guncang Flores, Sudah 6.397 Kali Terjadi

Giostanovlatto
Gempa Susulan M5,2 Guncang Flores, Sudah 6.397 Kali Terjadi

LambeTurahNews - Pukul 4 pagi, saat kebanyakan orang masih terlelap, warga Flores kembali harus berlari keluar rumah. Bukan yang pertama kali, dan sepertinya juga bukan yang terakhir.

Gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,2 kembali mengguncang Pulau Flores, NTT, Senin (24/8/2026) pukul 04.20.18 WIB. Kabar baiknya, gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Warga Kembali Berhamburan di Tengah Malam Buta

Kepala Desa Bobokerong, Lembata, Alshan AI Idrus, yang saat ini berada di Nagekeo, menggambarkan situasi mencekam yang kembali terjadi.

"Warga berhamburan dan lari," ujarnya saat dikonfirmasi Lambe Turah Bali, Senin.

Kalimat sederhana itu sebenarnya menyimpan trauma yang sudah berulang kali dialami warga Flores dalam beberapa hari terakhir. Setiap guncangan baru, sekecil apa pun, langsung memicu respons yang sama, lari menyelamatkan diri.

Bukan Gempa Biasa, Ini Akibat Pergerakan Sesar Aktif

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan episenter gempa berada pada koordinat 8,37° LS dan 120,64° BT, sekitar 33 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai.

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ujar Wijayanto.

Ia menjelaskan gempa ini tergolong gempa dangkal yang terjadi akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust, sebuah sesar aktif yang memang jadi sumber utama rentetan gempa di wilayah ini. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser turun (oblique normal fault)," imbuhnya.

Guncangan Terasa Sampai ke Labuan Bajo

Berdasarkan peta tingkat guncangan, dampak gempa ini terasa dengan intensitas berbeda-beda di berbagai wilayah. Sambi Rampas, Manggarai Timur, merasakan intensitas V MMI, level yang cukup untuk membangunkan hampir semua penduduk yang sedang tidur.

Sementara itu, Reok, Manggarai, dan Kota Ruteng merasakan intensitas IV MMI, sementara Kota Borong, Kota Bajawa, Kota Mbay, hingga Labuan Bajo, gerbang wisata Taman Nasional Komodo, ikut merasakan getaran dengan intensitas III MMI.

6.397 Gempa Susulan, Angka yang Bikin Was-was

Ini bagian yang paling bikin situasi Flores terasa jauh dari kata selesai. Hingga Senin pukul 04.30 WIB, BMKG mencatat total 6.397 aktivitas gempa susulan sejak gempa utama terjadi, dengan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2.

Angka ribuan gempa susulan ini menunjukkan satu hal, aktivitas seismik di wilayah ini masih jauh dari kata tenang, dan warga Flores harus terus hidup dalam kewaspadaan tinggi setiap harinya.

930 Jiwa Terdampak di Kotagana, Kondisi Pengungsian Masih Memprihatinkan

Wijayanto sendiri saat ini berada di Nagekeo untuk melakukan asesmen langsung di Desa Kotagana, Kecamatan Mauponggo. Hasil asesmen lapangan pada 23 Agustus 2026 menunjukkan skala dampak yang cukup besar.

"Berdasarkan assessment lapangan pada 23 Agustus 2026, tercatat 248 KK atau sekitar 930 jiwa terdampak. Sebanyak 120 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 70 rumah rusak berat dan 50 rumah rusak sedang," terangnya.

Kerusakan ini membuat banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka, karena kondisi bangunan yang sudah tidak aman untuk ditempati.

"Kondisi pengungsian masih sangat memprihatinkan. Sebagian warga hanya bertahan di bawah terpal darurat, tanpa tempat tidur yang layak dan dengan persediaan kebutuhan pokok yang terbatas," tandas Wijayanto.

Dari total 930 jiwa terdampak di Kotagana, ada kelompok rentan yang jumlahnya cukup signifikan, 54 balita, 5 ibu hamil, 43 penyandang disabilitas, 140 lansia, serta 20 lansia yang sedang sakit. Angka-angka ini menegaskan urgensi bantuan yang lebih cepat dan tepat sasaran, mengingat kelompok-kelompok ini paling rentan menghadapi kondisi pengungsian yang serba terbatas di tengah gempa susulan yang belum juga berhenti.

Berita Terkait