Kerbau di Manggarai Barat Melahirkan Anak Kembar Siam Berkepala Dua
LambeTurahBali - Kelahiran seekor anak kerbau di Manggarai Barat berubah jadi kasus medis yang bahkan bikin petugas puskeswan sendiri sempat kebingungan.
Seekor kerbau di Kampung Pinggong, Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT, melahirkan anak kembar siam dengan satu badan dan dua kepala, Selasa (25/8/2026). Sayangnya, anak kerbau tersebut lahir sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
Proses kelahiran ini ditangani langsung tim Pusat Kesehatan Hewan Kecamatan Sano Nggoang, namun awalnya petugas sama sekali tidak menyadari bahwa kerbau milik Alfons Harmin itu tengah mengandung anak kembar siam.
"Kami ke TKP, dengan kondisi anak kerbau sudah mati, posisi awal kami coba sesuaikan dengan kondisinya, suntik hormon perangsang, setelah itu sambil rogoh dan tarik pelan, tapi tidak bisa," ungkap koordinator Puskeswan Kecamatan Sano Nggoang, Syprianus Andi, Kamis (27/8/2026).
Petugas baru menyadari ada yang tidak biasa setelah upaya penanganan standar gagal berulang kali. Dari situlah kecurigaan kembar siam mulai muncul.
Syprianus kemudian memastikan dugaan tersebut setelah menemukan detail anatomi yang janggal pada tubuh anak kerbau.
"Setelah kami coba telusuri, dugaan kembar sudah saya pastikan setelah menemukan daun telinga yang berbeda dengan posisi kepala yang satu tutup jalan lahir (posisi lengkung)," terang Syprianus.
Temuan sepasang daun telinga yang berbeda pada satu kepala ternyata menjadi kunci utama yang mengungkap kondisi langka ini, sebuah detail kecil yang bisa saja terlewat kalau petugas tidak jeli memeriksa lebih dalam.
Persoalan sebenarnya baru dimulai setelah kembar siam ini terkonfirmasi. Posisi salah satu kepala yang menutup jalan lahir membuat proses kelahiran normal jadi mustahil dilakukan.
Petugas akhirnya harus mengambil keputusan sulit, melakukan pemotongan leher pada salah satu kepala anak kerbau lewat prosedur medis yang disebut fetotomi.
"Melalui pertimbangan dengan pemilik, kami lakukan pemotongan leher (fetotomi). Ketika kepala sudah terpotong, dengan sendirinya kepala kembaran putar pada posisi normal, dan akhirnya bisa keluar," jelas Syprianus.
Tindakan ini bukan tanpa risiko, mengingat keterbatasan alat yang dimiliki tim di lapangan saat itu.
"Prosesnya agak rumit dan berisiko dengan peralatan apa adanya," tandas Syprianus, menutup penjelasannya soal proses penanganan yang tidak mudah ini.
Kasus kelahiran hewan kembar siam seperti ini tergolong langka terjadi, dan biasanya menjadi perhatian dunia kedokteran hewan karena memberikan data berharga soal kelainan genetik pada ternak, meski dalam kasus ini berujung duka bagi pemiliknya.
Tag Terkait