Sampan Pecah usai Tabrak Kayu, Nelayan Jembrana Hilang di Perairan Pulukan
LambeTurahBali - Kadang laut tidak butuh badai untuk merenggut seseorang — cukup sebatang kayu yang mengapung di jalur yang salah. Itulah yang terjadi pada I Gusti Putu Sugiarta (38), nelayan yang hilang saat melaut di perairan Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Kamis (10/9/2026).
Sugiarta melaut bersama dua rekannya menggunakan sampan berbahan fiber berwarna putih. Di tengah perjalanan, sampan itu tiba-tiba menghantam kayu yang mengapung di permukaan laut, hingga badan sampan pecah seketika. Ketiganya lantas hanya bisa berpegangan pada puing sampan yang tersisa, terombang-ambing selama sekitar 30 menit sebelum ada nelayan lain yang kebetulan lewat dan menolong.
Dua orang berhasil diselamatkan. Sugiarta sendirian yang sudah tidak terlihat begitu bantuan datang.
Artinya, jendela pertolongan di laut lepas bisa sesempit setengah jam — dan dalam rentang itu, siapa yang kebetulan lewat bisa jadi penentu hidup atau hilangnya seseorang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengatakan laporan diterima pukul 11.15 Wita dari Polair Polres Jembrana. "Begitu menerima laporan, kami langsung mengerahkan Tim Rescue Pos Pencarian dan Pertolongan Jembrana untuk melakukan pencarian terhadap korban," ujarnya.
Tujuh personel SAR bergerak dari Pelabuhan Gilimanuk membawa Rigid Inflatable Boat (RIB), lalu bergabung dengan unsur SAR lain. Pada sorti pertama, lima personel langsung menuju titik terakhir Sugiarta terlihat.
Hingga pukul 14.40 Wita, pencarian belum membuahkan hasil dan area penyisiran sudah diperluas hingga Perairan Pengambengan — tanda bahwa tim SAR mulai mempertimbangkan arus laut yang mungkin membawa korban lebih jauh dari lokasi kejadian.
Bagi keluarga di Pulukan, setiap jam yang berlalu tanpa kabar terasa berbeda. Tim SAR gabungan dipastikan masih terus bekerja menyisir perairan hari ini.
Tag Terkait