Tambora Terbakar 4 Hari, 834 Hektare Hangus di Tiga Lokasi
LambeTurahBali - Ada ironi pahit di balik kebakaran yang melanda Taman Nasional Tambora belakangan ini. Baru dua hari sebelum kawasan ini disibukkan dengan event Tambora Jungle Run, api justru mulai melahap jalur pendakian dan padang rerumputan yang sama, hingga akhirnya membakar lahan seluas 734,82 hingga 834,82 hektare dalam rentang empat hari.
Kepala Balai TN Tambora Abdul Azis Bakry menjelaskan, kebakaran pertama terpantau Selasa (1/9/2026) di kawasan Resor Kawinda Toi, SPTN Wilayah I Kore. Api melalap jalur pendakian Kawinda Toi Pos 5 sampai Pos 6 serta Doro Onta selama tiga hari berturut-turut, dengan luas terdampak sementara diperkirakan mencapai 400-500 hektare.
"Kejadian pertama terpantau di Resor Kawinda Toi, SPTN Wilayah I Kore, pada 1-3 September 2026," kata Abdul Azis, Sabtu (5/9/2026).
Tujuh petugas diturunkan untuk mengecek kondisi lapangan secara menyeluruh. Saat proses ground check di Grid 733, mereka masih menemukan bara api yang menyala di batang pohon cemara, dan langsung dipadamkan di tempat. Soal penyebabnya, dugaan awal mengarah ke aktivitas perburuan liar Rusa Timor, sebuah temuan yang menyingkap sisi lain dari ancaman terhadap kawasan konservasi ini.
Belum selesai di satu titik, api kembali muncul pada 3 September 2026 di Kadondo, masih di wilayah yang sama, dengan luas terdampak sekitar 2,32 hektare. Kali ini 14 petugas dikerahkan untuk memadamkan, dengan dugaan penyebab berbeda: rambatan api dari aktivitas pembersihan lahan pertanian warga sekitar.
Puncaknya terjadi Jumat (4/9/2026), ketika kebakaran kembali pecah di jalur pintu Walet Timur Oi Hodo, SPTN Wilayah II Pekat, dan melahap lahan seluas 332,50 hektare. Sebanyak 16 personel gabungan, mulai dari petugas balai, mitra, hingga mahasiswa, dikerahkan untuk memadamkan api yang lagi-lagi diduga berasal dari rambatan pembakaran lahan pertanian.
Pola yang berulang ini menunjukkan sesuatu yang penting: dua dari tiga titik kebakaran diduga bersumber dari aktivitas manusia, baik perburuan liar maupun pembersihan lahan yang lepas kendali. Artinya, ancaman terbesar bagi Tambora bukan datang dari alam, melainkan dari kelalaian di sekitarnya.
Abdul menegaskan Balai TN Tambora akan memperkuat patroli, mempertajam deteksi dini hotspot, melakukan mopping up, memantau areal bekas terbakar, sekaligus mendalami penyebab kebakaran yang terindikasi berkaitan dengan aktivitas manusia.
"Api mungkin dapat padam dalam hitungan jam atau hari, tetapi dampaknya terhadap ekosistem dapat berlangsung jauh lebih lama. Jangan karena kepentingan sesaat, kita mengorbankan hutan yang menjadi sumber kehidupan banyak orang," pesannya kepada masyarakat sekitar kawasan.
Tag Terkait