Langsung ke konten
Bali Bali
News

CDC Amerika Keluarkan Travel Alert Zika di Bali, Dinkes Bali: Belum Ditemukan Satu Kasus Pun

Giostanovlatto
CDC Amerika Keluarkan Travel Alert Zika di Bali, Dinkes Bali: Belum Ditemukan Satu Kasus Pun

Laporan : Destarita Rahmawati

LambeTurahBali - Beberapa hari terakhir, sebuah pemberitaan cukup bikin resah, kabarnya CDC Amerika Serikat mengeluarkan travel alert terkait peningkatan kasus Zika di Bali. Tapi begitu ditelusuri lebih jauh, faktanya ternyata jauh berbeda.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali secara resmi membantah adanya kasus Zika yang terkonfirmasi di wilayahnya. Berdasarkan data surveilans rutin dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan rumah sakit se-Bali, sampai saat ini belum ditemukan satu pun kasus Zika yang benar-benar terkonfirmasi.

Bukan Berarti Diabaikan, Justru Jadi Bahan Evaluasi

Meski belum ada kasus terkonfirmasi, Dinkes Bali tidak lantas menganggap remeh peringatan dari CDC. Bersama Kementerian Kesehatan RI, mereka justru mengapresiasi sistem peringatan dini global tersebut dan menjadikannya bahan evaluasi internal.

Kalau dipikir-pikir, sikap ini cukup masuk akal. Daripada langsung membantah keras tanpa tindak lanjut, justru lebih bijak menjadikan travel alert ini sebagai pengingat untuk memperkuat sistem deteksi dini, meski faktanya belum ada kasus yang terbukti.

Zika Itu Apa Sih, dan Gejalanya Seperti Apa?

Untuk masyarakat yang belum familiar, virus Zika sebenarnya ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti, nyamuk yang sama yang juga jadi vektor penular Demam Berdarah Dengue (DBD), meski gejala Zika cenderung lebih ringan.

Gejalanya meliputi ruam, demam, mata merah, nyeri otot, nyeri sendi, lemah, dan sakit kepala. Masa inkubasinya berkisar 3-14 hari, dengan gejala biasanya berlangsung selama 4-7 hari.

Langkah Pencegahan yang Diminta Dinkes ke Masyarakat dan Wisatawan

Meski belum ada kasus, Dinkes Bali tetap mengimbau masyarakat, wisatawan domestik maupun mancanegara, untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Fokus utamanya adalah gerakan 3M Plus, menguras, menutup, mendaur ulang, ditambah penggunaan losion anti nyamuk, kelambu, atau obat nyamuk lainnya.

Bagi siapa pun yang mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas, disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

Kesiapan Tetap Ditingkatkan, Meski Kasusnya Belum Ada

Yang menarik, meski belum ada kasus Zika sama sekali, Kementerian Kesehatan bersama Dinkes Bali justru mengambil langkah proaktif untuk memperkuat sistem deteksi dini di seluruh fasilitas kesehatan.

Langkah ini mencakup penguatan kapasitas laboratorium dan jejaring surveilans untuk Zika dan arbovirus lainnya, peningkatan kapasitas pemeriksaan PCR dan serologi di laboratorium daerah maupun rujukan nasional, peningkatan kewaspadaan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan lewat Health Quarantine, serta intensifikasi pemantauan gejala di puskesmas dan rumah sakit.

Pernyataan resmi ini ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., sebagai bentuk klarifikasi tegas atas informasi yang sempat beredar luas. Bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke Bali, kabar ini tentu jadi angin segar, tapi kewaspadaan terhadap gigitan nyamuk tetap layak dijaga, sesederhana apa pun langkah pencegahannya.

Berita Terkait