Ruben Onsu Pertanyakan Nafkah Rp263 Juta Sebulan, Orang Bali Bisa Langsung Mikir: Buat Apa Saja Uang Sebanyak Itu?
LambeTurahBali - Rp263 juta. Buat sebagian orang, itu cuma deretan angka di layar berita. Tapi buat kebanyakan orang Bali, begitu dengar kata "nafkah anak Rp200 juta sampai Rp263 juta sebulan," reaksi pertama biasanya sama: mata langsung membelalak, terus otak otomatis mulai menghitung.
Sebesar apa sih kebutuhan satu anak sampai bisa menghabiskan ratusan juta tiap bulan?
Angka fantastis ini mencuat setelah kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, mempertanyakan transparansi penggunaan uang nafkah yang selama ini diberikan untuk kebutuhan anak-anaknya bersama Sarwendah.
"Masuk akal gak sih pengeluaran seorang anak yang masih di bawah umur itu per bulannya Rp200 juta sampai Rp263 juta per bulan?" ujar Minola saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (12/8/2026).
Rp263 Juta, Kalau di Bali, Bisa Jadi Apa Saja
Namanya juga manusia, begitu dengar angka sebesar itu, wajar kalau pikiran langsung lompat ke perbandingan.
Rp263 juta sebulan itu setara biaya sewa vila mewah lengkap kolam renang pribadi di kawasan Canggu atau Ubud, selama berbulan-bulan. Bisa juga dipakai bayar SPP internasional sekolah anak setahun penuh, plus masih sisa buat DP mobil baru. Atau kalau dikonversi ke gaji UMR Bali yang berkisar Rp3 jutaan, angka itu setara penghasilan puluhan orang selama sebulan penuh, digabung jadi satu.
Tentu saja, membandingkan kehidupan satu keluarga dengan standar ekonomi berbeda bukan hal yang adil. Kebutuhan keluarga selebriti dengan gaya hidup tertentu memang tidak bisa disamakan begitu saja dengan kebanyakan rumah tangga di Bali.
Tapi justru di situlah letak pertanyaan yang sebenarnya ingin dijawab pihak Ruben: bukan soal besar-kecilnya angka, melainkan ke mana persisnya uang sebesar itu mengalir setiap bulan.
Bukan Soal Mau Bayar atau Tidak, Tapi Soal Transparansi
Minola menegaskan, pihak Ruben sama sekali tidak mempersoalkan kewajiban memberi nafkah untuk anak-anaknya.
Yang jadi ganjalan justru soal transparansi. Menurutnya, uang nafkah itu hak anak, sehingga penggunaannya harus bisa dipertanggungjawabkan secara jelas, bukan sekadar angka yang diminta tanpa rincian.
Salah satu yang jadi sorotan adalah tagihan kartu kredit yang disebut-sebut berkaitan dengan kebutuhan anak. Pihak Ruben ingin memastikan, apakah seluruh tagihan itu benar murni untuk kebutuhan anak, atau ada pengeluaran pribadi yang ikut menyelinap di dalamnya.
Kalau Tidak Ada Rincian, Audit Independen Jadi Opsi
Persoalan transparansi ini rupanya jadi salah satu ganjalan utama dalam proses mediasi yang sedang berjalan.
Kalau rincian pengeluaran tidak kunjung diberikan, tim hukum Ruben mempertimbangkan opsi yang lebih tegas: audit independen.
"Biar ketahuan apakah memang penggunaan uang Rp200 juta sampai Rp263 juta itu memang betul-betul untuk kebutuhan anak semua atau tidak," kata Minola.
Pada akhirnya, angka Rp263 juta ini bukan sekadar viral karena besarnya. Ia jadi viral karena memancing pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tapi jarang berani ditanyakan secara terbuka dalam kasus-kasus semacam ini: kalau memang untuk anak, kenapa rinciannya sesulit itu didapat?
Tag Terkait